Feed on
Tulisan
Komentar

Rabu 25 Juni 2008, kemarin tim media MJF sempat berbincang santai dengan seorang mantan Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Brawijaya, Edy Mulyono. Kini Edy bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi di Malang. Mas Edy, begitu akrab dipanggil, bercerita tentang perkembangan jazz era tahun 90-an. Utamanya di kampus-kampus. Dari sekelumit cerita itu, Edy menyampaikan jazz di Malang, utamanya di kampus-kampus tumbuh subur dulu. Bahkan pernah digelar event jazz bertajuk Jambore Jazz Kampus (JJK) di Unibraw. Edy sempat lupa mulai kapan JJK digelar, yang jelas tahun 90-an, JJK sudah tergelar ke enam kalinya. Sayang, gelaran itu tidak berlanjut hingga sekarang. Sebenarnya banyak hal yang ingin diungkap dari Edy, tapi karena terbatasnya waktu bertemu akhirnya cerita ini belum berlanjut.

Jazz di Malang, utamanya di kampus-kampus tumbuh subur dulu. Bahkan pernah digelar event jazz bertajuk Jambore Jazz Kampus (JJK) di Unibraw.

Kata Edy, FIA Unibraw memang fakultas yang kali pertama mengawali bikin gelaran jazz. Bahkan beberapa grup seperti halmahera pernah tampil di Unibraw. Bahkan, dulu setiap fakultas memiliki grup-grup band jazz. Sayang cerita ini belum tersambung dengan lengkap. Karena itu, siapapun anda dan dimanapun anda yang pernah ‘terlibat’ dalam event itu bisa memberikan ‘cerita’ di blog ini. Tujuannya, adalah tidak sekedar bernostalgia, tapi memberikan inspirasi bahwa Malang memang tempat tumbuh kembang jazz sejak dulu. Silahkan..

Dalam menjalankan komitmen mengembangkan musik jazz di tanah air, Dji Sam Soe Super Premium mendapat dukungan dari beberapa pihak. Di antaranya rekan – rekan media yang selalu menyuguhkan pemberitaan positif dan berkualitas mengenai perkembangan jazz Indonesia.
Sebagai apresiasi atas dukungan rekan – rekan media tersebut, digelar Dji Sam Soe Super Premium Jazz For Media pada Jumat 20 Juni 2008 mulai pukul 19:00 WIB di Kulala Bar & Pool Side Hotel Santika. Beberapa musisi jazz seperti Arafuru, Farbig, Batik, dan Abigail Rhytm siap tampil menghadirkan hangatnya nuansa jazz di tengah sejuknya Kota Malang.

Rekan – rekan media cetak dan elektronik selalu mendukung upaya Dji Sam Soe Super Premium dalam mengembangkan jazz. Melalui berbagai karya jurnalistik tentang jazz yang positif, berkualitas, dan berimbang yang dihasilkan rekan – rekan media kami mendapatkan banyak masukan.


Tutuko, selaku Manager Area Marketing PT HM Sampoerna Tbk wilayah Malang menjelaskan, “Rekan – rekan media cetak dan elektronik selalu mendukung upaya Dji Sam Soe Super Premium dalam mengembangkan jazz. Melalui berbagai karya jurnalistik tentang jazz yang positif, berkualitas, dan berimbang yang dihasilkan rekan – rekan media kami mendapatkan banyak masukan,”.

Lebih lanjut Tutuko menambahkan, “Dji Sam Soe Super Premium secara konsisten mendukung perkembangan musik jazz di Indonesia dan kami telah menghadirkan festival jazz berskala internasional serta konser musisi jazz dari dalam dan luar negeri. Seperti Dji Sam Soe Super Premium Jakarta International Java Jazz Festival dan Dji Sam Soe Super Premium Jak Jazz Festival.Selain itu, kami juga berupaya mengembangkan musik jazz lewat peluncuran album musik jazz. Di antaranya Jamiroquai, Jazz in the City 1 dan 2, Jazz To Be With You 1 dan 2, serta Tribute to Jak Jazz 2007,” imbuh Tutuko. Di samping itu, Dji Sam Soe juga memiliki beberapa program yang melibatkan seluruh komponen yang terlibat dalam perkembangan jazz. Di Malang, telah terbentuk Malang Jazz Forum yang beranggotakan para jazz lovers, musisi, jazz expert, media dan sponsor. “Kami berharap, Dji Sam Soe Super Premium dan rekan – rekan media bisa berjalan beriringan dalam mengembangkan jazz Indonesia.”

Usai gelaran Gathering 1 MJF (Malang Jazz Forum) pada 14 Juni lalu. Sebuah email singkat masuk di email malangjazzforum@yahoo.co.id Email itu menjawab ajakan tim media MJF kepada seseorang yang mendedikasikan dirinya untuk mengembangkan jazz. Berikut jawaban singkat email itu : ” sy siap bantu utk MJF(tampil,discuss,workshop etc) sekali lagi selamat bwt MJF dan maju terus jazz.trims,”. Sebelumnya tim media mendapatkan informasi dari seorang rekan anggota MJF, agar kita mengakses situs gitaris jazz asal Malang ini. Kami lantas hunting, akhirnya cukup mudah kami menemukannya. Kami berusaha mencari kontaknya, ternyata tersedia layanan untuk kirim email kepadanya.

Begitu tim media MJF meminta kesiapan Koko Harsoe datang ke Malang, tim ini langsung meresponnya dengan jawaban” sy siap bantu utk MJF (tampil,discuss,workshop etc) sekali lagi selamat bwt MJF dan maju terus jazz.trims,”.

Tim media akhirnya menuliskan panjang lebar tentang gelaran Gathering 1 MJF yang berlangsung 14 Juni silam dan bercerita tentang berdirinya MJF. Bahkan lebih lengkap, beliaunya kita minta untuk aktif mengakses blog MJF untuk pantau perkembangan dan program MJF. Saat itu tim media MJF menanyakan kepada beliaunya kapan kembali ke Malang, apakah siap untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dengan para generasi jazz di Malang. Tepat hari Rabu , 17 Juni 2008 pukul 19.45 WIB, masuk sebuah email ke Malangjazzforum. Pengirim email itu bernama Sapto Hastoko. Lebih lengkap dia mengirimkannya dari alamat email kokoguitar2000@yahoo.com. Tentu kalau dengar nama Sapto Hastoko, belum begitu populer, namun bila mendengar nama Koko Harsoe, para MJF-ers pasti tak asing. Koko Harsoe yang kini tinggal di Bali tidak hanya pandai mengemas sebuah aransemen musik jazz, tapi Koko Harsoe juga memiliki tim yang luar biasa dalam mengemas sebuah publikasi. Seperti keberadaan Koko Harsoe Music Online Team. Bagaimana tim ini mengelola situs www.kokoharsoemusic.com.
Begitu tim media MJF meminta kesiapan Koko Harsoe datang ke Malang, tim ini langsung meresponnya dengan jawaban” sy siap bantu utk MJF (tampil,discuss,workshop etc) sekali lagi selamat bwt MJF dan maju terus jazz.trims,”. Dari jawaban itu, tentunya menjadi semangat semua pihak yang terlibat dalam MJF agar lebih berkembang, tidak hanya melahirkan musisi-musisi berprestasi mendunia, tapi juga event-event, pemberdayaan yang berangkat dari karya dan rasa yang sama yakni jazz. Bagaimana para MJF-ers menerima tantangan Sam Koko ini ? apakah perlu segera mungkin Sam Koko di hadirkan di Bumi Arema ? jawabannya pada kalian semua.

Abigail Rhythm adalah band jazz yang tidak memiliki aliran tertentu, karena band ini menganggap musik adalah tempat untuk berekspresi, sehingga kebebasan bereksperimen yang sesuai dengan gaya dan karakter masing-masing personel lebih diutamakan. Why ‘Abigail Rhythm’? Abigail mewakili sosok wanita yang memiliki sisi keindahan, keanggunan dan keunikan, yang merupakan sumber inspirasi untuk membentuk suatu harmony dan rhythm yang unik. Who Are They? Band yang lahir di Malang pada bulan Maret 2008 ini terdiri dari tiga orang personel, yaitu: Gedy (Drum, Percussion) Drummer dengan nama lengkap Gideon Paul yang lahir pada 22 Januari 1983 ini mulai bermusik pada tahun 2000. Drummer yang pada awalnya memainkan musik alternative ini mulai mencoba bermain di jalur jazz pada tahun 2005 bersama ‘Farbig’. Kemudian pada bulan Maret 2008 Gedy membentuk ‘Abigail Rhythm’. Andika (Piano, Synthesizer) Pianist yang sangat mengidolakan Herbie, Chic dan Hiromi ini lahir pada tanggal 10 Oktober 1983. Andika mengenal jazz dari orang tuanya yang juga pecinta musik jazz. Pianist dengan nama lengkap Andhika Riptayudo Nugroho yang sempat menyelesaikan sekolah musik di Jogja ini justru baru memulai karier dalam musik jazz pada bulan Maret 2008 saat bergabung dalam ‘Abigail Rhythm’. Benny (Bass) Bassist yang lahir pada tanggal 24 April 1984 ini sangat menggemari black music (Soul, Funk, R&B, Jazz). Jaco Pastorius, M2, Nathan East dan Abe laboriel sangat meng-influence gaya bermainnya. Pada awalnya, bassist yang senang bermain dengan sound FX ini berkecimpung di dunia musik Hip Hop / R&B, hingga akhirnya memutuskan untuk terjun dalam dunia musik jazz bersama ‘Abigail Rhythm’.

Abigail Rhythm terus menerus mencari sesuatu yang baru dalam bentuk pembawaan dan ciri khas bermusik jazz, bahkan terkadang melangkahi beberapa aturan klasik. Dengan demikian Abigail Rhythm lebih mementingkan kebebasan untuk menjadi diri sendiri dimanapun dan kapanpun band ini bermain musik.

The Reason Keinginan untuk bebas berekpresi dan mendalami musik jazz membuat Abigail Rhythm terus menerus mencari sesuatu yang baru dalam bentuk pembawaan dan ciri khas bermusik jazz, bahkan terkadang melangkahi beberapa aturan klasik. Dengan demikian Abigail Rhythm lebih mementingkan kebebasan untuk menjadi diri sendiri dimanapun dan kapanpun band ini bermain musik. Selain adanya keinginan untuk berekspresi, Abigail Rhythm juga ingin memperkenalkan kebudayaan bangsa yang merupakan ciri khas yang dibanggakan di Indonesia, bahkan sampai di dunia internasional. Ini yang mendorong Abigail Rhythm untuk selalu melibatkan konsep-konsep musik Indonesia ke dalam musik jazznya yang menjadikan nuansa baru dalam aransemennya. (abigail_rhythm@yahoo.com)

Rangkaian kegiatan dimulai sekitar pukul 16.30, meski acara dimulai agak telat satu setengah jaman, tapi animo yang hadir terus mengalir. Sebelumnya, MC yang ‘disumbang’ dari rekan-rekan muda mahasiswa Universitas Brawijaya meminta semua yang hadir memperkenalkan diri, suasana awal makin mengakrabkan semua yang hadir di kampus yang berada di kawasan Jalan Borobudur Malang itu. Semua yang datang, duduk lesehan diatas tiga rangkaian panjang karpet berwarna merah.

Koko menilai mengembangkan genre musik satu alatnya adalah komunikasi. Harapannya, dengan adanya MJF itu terjalin sebuah komunikasi antar semua pihak. Koko sangat menyambut positif berdirinya MJF, dia berharap lahir generasi- generasi baru jazzer asal Malang dengan prestasi mendunia.

Usai perkenalan,acara agak serius mulai begulir. Jaya Idris dari Radio Citra Malang yang didapuk sebagai moderator dalam dialog jazz sebagai sesi pertama gathering, memperkenalkan secara detail profil Malang Jazz Forum.

Mengenalkan MJF, makin lengkap dengan dukungan sebuah big screen dan lensa tajam yang detail menggambarkan MJF. Usai itu, Jaya coba melempar pendapat tentang MJF. Tampil angkat bicara pertama, Pak Syamsul. “Saya ingin wadah ini langgeng. Semua pihak mensupport untuk kemajuan jazz di Malang”, kata Syamsul yang juga ayah Dita, vokalis Toke’ n friend.

Syamsul mengingatkan lagi sejarah perkembangan jazz, bahwa jazz lahir bukan untuk para orang tua yang sengsara. Memang, kata Syamsul, lahirnya jazz dari sebuah komunitas yang tertindas. Tapi, bukan berarti perkembangannya, jazz identik dengan kesengsaraan.

Sebaliknya, Syamsul menegaskan, jazz bukan hanya dinikmati kalangan elit saja. Tapi, jazz harus berkembang ke semua kalangan. Syamsul sempat menyinggung agar jazz tidak hanya digelar di tempat-tempat yang orang beranggapan harus memiliki kantong tebal. Karena itu, Syamsul berharap forum ini dapat terus menerus menyampaikan kepada publik untuk menetralisir dan meluruskan anggapan itu.

Dialog makin lestari, meski hampir beberpa menit listrik padam, dan ‘sedikit’ membuat panik panitia. Beruntung, genset segera membackup kebutuhan ‘energi ‘ kegiatan, dan gatheringpun berlanjut. Dialog dilanjutkan setelah Toke’n friend tampil memukau dengan dua lagu karya mereka Semu dan Hentikanlah Waktu. Moderator dialog dalam sesi lanjutan ini menghadirkan Om Ping (bass Farbig), tokoh musisi Malang Om Sigit dan Mamek, dan Tutuko dari Sampoerna.

Om Sigit ketika ditanya pendapatnya tentang MJF, dan umumnya kendala apa yang muncul dalam sebuah wadah seni. Om Sigit menilai selama mengamati perjalanan tiga bulan MJF berdiri sejak 20 Maret 2008 lalu, praktis tidak ada kendala yang dia lihat. Justru, terus melakukan upaya-upaya mengembangkan wadah terebut.

Sementara Tutuko mengaku jujur mengawali statemennya, “Saya merinding. Yang datang begitu banyak . Terus terang saya merinding ada di forum ini,”katanya. Tutuko berpendapat untuk memajukan jazz di Malang, perlu pandangan kedepan. Masa lalu memang penting, agar dalam melangkah semua pihak dapat melakukan evaluasi. Tapi, terpenting adalah perlu ada orientasi kedepan agar MJF ini benar-benar menjadi wadah yang dapat memajukan jazz di Malang.

Tutuko menyambut baik masukan Pak Syamsul, sebagai sponsorship, memiliki komitmen untuk mengembangkan jazz di Indonesia pada umumnya, tapi Malang khususnya. “Terus terang, kita menggelar jazz tidak hanya memberi kontribusi saja, tapi juga dipikrikan dampak positifnya terhadap sponsorship. Tapi, kita tidak menutup diri, bila jazz digelar di tempat-tempat lain yang dapat di akses semua kalangan, seperti menggelar jazz di tempat yang terbuka.

Dari kalangan musisi, Om Ping berharap dalam gathering ini muncul beragam masukan dan saran, akan dikemanakan MJF kedepan. “Apakah cukup dengan sekedar kumpul-kumpul main musik, apakah perlu semacam struktur dan program atau seperti apa,”ujar Om Ping.

Om Ping menyampaikan MJF berdiri secara tidak sengaja, ini semua karunia Tuhan. Sebelumnya para penikmat jazz kumpul di beberapa event yang digelar , seperti Jazz in The City yang bergulir setahun lalu. Dari acara kumpul-kumpul berkembang membicarakan akan kebutuhan membentuk wadah. Sekarang, wadah sudah terbentuk, apakah perlu ada struktur definitif atau belum mengarah kesana, tanya Om Ping.

“MJF bukan milik satu intitusi, satu media, satu pihak saja. Tapi milik bersama. Seperti halnya acara ini digelar atas kebersamaan,”paparnya. Om Ping lantas berfilosofi, bahwa semua aliran musik itu adalah karunia Tuhan, seperti halnya jazz. Karena itu, perlu diemban sikap simpati dan empati untuk saling menghargai, demikian pula dalam MJF.

Sedangkan Mamek, musisi gaek Malang ini menyampaikan sebagian besar kerangka pikir orang bahwa jazz itu memiliki prestise milik orang-orang elit. Penilaian itu, kata Mamek, sangatlah keliru. Karena musik itu ciptaan Tuhan, maka semua orangpun memiliki hak yang sama untuk menikmatinya. Kehadiran MJF, lanjut Mamek, sangat memberi makna dalam khasanah musik, utamanya jazz di Malang. “Karena itu saya menyampaikan selamat. Dan selamat berekspresi,” tutur Mamek disambut riuh tepuk tangan.

Dialog gayeng itu makin bernilai, ketika tersambung dengan Koko Harsoe, musisi jazz asal Malang yang kini tinggal di Bali. Meski tersambung lewat ponsel agak kurang jelas. Tapi, Jaya Idris yang memandu dialog dengan Koko Harsoe coba meminta pandangan Koko soal MJF. Koko menilai mengembangkan genre musik satu alatnya adalah komunikasi. Harapannya, dengan adanya MJF itu terjalin sebuah komunikasi antar semua pihak. Koko sangat menyambut positif berdirinya MJF, dia berharap lahir generasi- generasi baru jazzer asal Malang dengan prestasi mendunia.

Beberapa pendapat muncul ketika Jaya melempar sesi pendapat dari mereka yang hadir. Didik Jengjing, satu diantara pegiat seni di Malang ini menyampaikan beberapa hal yang menjadi kebutuhan sebuah wadah. Diantaranya, MJF diharapkan menjadi wadah silaturahmi yang jitu untuk bicara jazz, selanjutnya layaknya sebuah organisasi butuh legalitas agar dalam melangkah ada yang menjadi acuan hukumnya. Perlu dipikirkan event dan program rutin kedepan.

Karena makin berjalannya waktu, sementara tampilan band-band jazz masih cukup banyak. Sesi dialog dilanjutkan dengan berpindah ke media tulis. Semua yang hadir diminta menulis opini, masukan dan saran melalui sebuah kertas warna warni. Beragam pendapat bermunculan, agar dapat dibaca semua khalayak, panitia menempelkannya ke sejumlah pilar penyangga bangunan Padepokan Seni itu. Menariknya, dari sekian yang hadir turut bergumam. Kapan Gathering berikutnya digelar ?

Akrab, energik, dan atraktif. Tiga kesan itu yang terasa dalam Gathering 1 Malang Jazz Forum (MJF) digelar sepanjang sore sampai malam di Padepokan Seni Balekambang STIE Malangkucecwara Sabtu 14 Juni 2008. Keakraban begitu terasa, karena yang hadir membludak, tidak seperti dibayangkan panitia sebelumnya. Bahkan, lintas generasi, mulai yang muda sampai yang tua berkumpul, bercengkerama, ngejam, sampai berdansa bersama.

Hadir para musisi-musisi gaek jazz malang seperti Pak Syamsul, Abah Munif, Mamek, Danar, Om Sigit dan beberapa tokoh lainya. Tampak pula dari kalangan sponsorship Tutuko dari Sampoerna Malang, Edi dan Muklis dari Indosat Malang, perwakilan dari Kings Kebab, Mas Zoel dari cokelat Silvie and Joe dan beberapa perakilan sponsorship yang konsen pada gelaran jazz di Malang. Juga hadir dari perwakilan event organizer, Andre dari GProduction dan Warto dari Orbit Organizer, serta yang lainnya. Dari kalangan media elektronik, Eko dari MFM, Djoko dari Radio Citra Malang, Zoel dan Kencana FM dan beberapa rekan media lainnya.

Keakraban begitu terasa, karena yang hadir membludak, tidak seperti dibayangkan panitia sebelumnya. Bahkan, lintas generasi, mulai yang muda sampai yang tua berkumpul, bercengkerama, ngejam, sampai berdansa bersama.

Dukungan publikasi juga datang mengejutkan dari komunitas blogger di Malang. Sandynata, satu dari anggota komunitas blogger ngalam, sebelum kegiatan berlangsung meminta ijin tim media MJF agar kegiatan akbar itu menjadi bagian peliputan mereka.

Acara makin semarak karena digelar parade band-band jazz secara bergantian menghibur para penikmat jazz. Mereka diantaranya Tokek n Friend, Black Jack, Home Band STIE Malangkucecwara, Farbig, Ice-O, Spectra (keduanya band SMAN 1 Kota Malang), Androgin, Abigail Rythim, Batik, dan Arafuru.

Rangkaian sesi lain seperti dialog jazz yang di ‘wasiti’ Jaya Idris dari Radio Citra Malang, sebar opini, mereka yang hadir diminta masukan dan sarannya dengan cara menulis dalam sebuah kerta warna warni yang disiapkan panitia dan ditempelkan di sekeliling pilar yang menyanggah Padepokan Seni tempat acara berlangsung.

Di pojok gedung berartistik jawa itu, panitia membuka outlet corner yang menjual beragam merchandise MJF mulai pin, stiker sampai kaos. Bahkan, mereka yang belum sempat daftar sebagai anggota MJF, bisa langsung daftar online melalui sebuah laptop yang disiapkan panitia. Mereka juga bisa mendaftar melalui formulir yang disiapkan. Tidak hanya itu, panitia sempat pula menyebarkan kuisioner berisi beberapa pertanyaan seputar MJF. Event penuh akrab ini makin tersa, ketika panitia mencoba merangsang kepedulian mereka yang hadir. Panitia mengedarkan sebuah kotak cokelat bekas air kemasan, dengan ikhlas ‘kotak’ itu berkeliling. Penggalangan dana itu untuk keperluan operasional MJF. Dalam acara itu terkumpul dana sebesar Rp 428.000, sebelumnya ‘kas’ MJF terisi Rp 1.330.000, maka dalam laporannya total MJF memiliki dana Rp 1.758.000.

Seperti pesan yang disampaikan berulangkali oleh MC dan yang diingini mereka yang hadir MJF adalah sebagai wadah independen dan kultural. MJF milik bersama.

Para MJF-ers terus mengembangkan diri. Tidak hanya berkembang di variasi musik di jalur jazz, tapi juga mengembangkan kegiatannya. Tidak hanya kegiatan yang melulu musik, tapi juga kegiatan sosial. Untuk lebih menyatukan tekat dan mengharmonikan rasa dan karya dalam wadah Malang Jazz Forum (MJF).

Rencananya akan digelar sebuah pertemuan ‘akbar’ kalau dibilang, karena harapannya semua yang terdaftar maupun belum atau mau mendaftar ke MJF, ataupun yang peduli dengan MJF untuk bisa hadir dalam program Gathering I Malang Jazz Forum.

Gathering I Malang Jazz Forum untuk lebih menyatukan tekat dan mengharmonikan rasa dan karya dalam wadah Malang Jazz Forum (MJF).

Acara ‘temu lapang’ itu akan digelar pada Sabtu 14 Juni 2008 di Padepokan Balekambang STIE Malang Kucecwara pukul 15.00 sampai selesai. Pada kegiatan itu, kita akan intens untuk sumbang pikir terkait banyak hal yang akan dilakukan MJF kedepan. Karena itu, kehadiran para MJF-ers sangat berarti suksesnya program ini. Kami tunggu ya..

Category: Music
Genre: Jazz
Artist: BENNY LIKUMAHUA, BUBI CHEN, SYAHARANI

BENNY LIKUMAHUA, BUBI CHEN, SYAHARANI - WONDERFUL WORLD

Para musisi seperti Bubi Chen, Oele Pattiselano, Benny Likumahua adalah beberapa nama yang cukup berjasa dalam perkembangan musik jazz di Indonesia. Kiprah mereka di musik jazz sudah dikenal sejak era 70-an sampai sekarang.

Sangaji Musik yang dimotori oleh Sandy mencoba mengangkat kembali tokoh-tokoh jazz masa lalu untuk diabadikan dalam bentuk perangkat kaset dan compact disc (CD) yang diberi judul Wonderful World. “Tak ada kata lain selain mendedikasikan dan mengabadikan tokoh jazz Indonesia agar bisa menjadi koleksi sepanjang masa,” ujar Sandy yang bertindak sebagai eksekutif yang telah memproduksi sejumlah karya jazz Indonesia.

Terdapat 10 lagu yang berhasil dirangkum dalam Wonderful World Lagu-lagu tersebut sebagian besar merupakan hasil aransemen Benny Likumahua dan beberapa diantaranya oleh Bubi Chen. Pendukung musiknya adalah : Bubi Chen (Piano), Benny Likumahua (Trombone, Bass), Trisno (Tenor Saxophone), Oele Pattiselano (Guitar), Cendi Luntungan (Drums, Percussions) dan Syaharani (Vocalist).

Lagu-lagu yang dikemas dalam corak jazz standar tersebut memang bukan lagu asing di telinga para pecinta musik. Selain instrumental, beberapa diantaranya adalah Killing Me Softly, Crazy, What A Wonderful World dibawakan oleh Syaharani.

Killing Me Softly yang bercorak jazz kontemporer hasil aransemen Benny Likumahua dibawakan Syaharani lewat penjiwaan yang cukup baik. Hal itu tidak lepas dari pengalaman nyanyinya di panggung-panggung cafe. Terbentuknya karakter vokal melalui pengalaman serta lingkungan di tengah para musisi jazz, menjadi pilihan Benny dan Sandy sang produser untuk melibatkan Rani dalam Wonderful World.

“Cukup sulit mencari penyanyi jazz dalam kondisi sekarang, namun karena saya melihat Rani memiliki ’swing feel’ yang baik, saya libatkan dia disini,” demikian penuturan Benny Likumahua. Tampak pula penjiwaan Rani pada lagu What A Wonderful World. Lagu yang pernah populer di masa lalu itu mengalir manis.

Berbicara musik jazz tidak lepas dari penggarapan instrumental. Seperti dalam lagu Unforgettable yang dimainkan secara apik oleh Bubi - Benny Cs. Kepiawaian mereka dalam memainkan lagu pilihan seperti ‘Moliendo Cafe’ dengan irama latin jazz, yang telah dikenal di Indonesia sebagai Kopi Dangdut itu mengundang decak kagum. Kita juga tidak boleh mengenyampingkan kehadiran Cendi Luntungan yang besar di lingkungan musisi senior. Lewat permainan drum serta perkusinya, ia cukup bisa berbicara banyak di kalangan musisi jazz. Seperti juga Trisno lewat Tenor Saxophone-nya.

Dengan menggunakan sistem live recording, sangat memungkinkan bagi mereka untuk melontarkan dialog-dialog lewat permainan musiknya. Dialog emosional inilah yang sangat dibutuhkan di musik jazz. Wonderful World memang bertujuan untuk mengabadikan musisi jazz lewat karya yang dibawakannya. Agar keberadaan mereka tetap tercermin dan dapat dinikmati oleh pecinta musik. Sebuah peluang bagus di tengah arus industri musik yang beraneka ragam seperti sekarang ini.Wonderful World memang pantas dimiliki sekaligus menjadi koleksi sepanjang masa.

Dalam wilayah art,musik khususnya pada wilayah seni pertunjukan dan dunia kemultimediaan,merupakan kesemestaan yang paling dinamis serta bisa berinteraksi dengan media manapun sehingga terkesan tidak ada sekat ( menembus batas). Hal ini bisa dilihat pada beberapa cuplikan video perform dari Singgih Sanjaya Orchestra dengan LKO Light Kronchong Orchestra,…

Mereka memainkan beberapa komposisi Jazz dengan digawangi dengan tebalan Musik Kroncong,Dari komposisi itu kita bisa melihat bahwa kedinamisan wilayah musik sangat luar biasa..!! dan juga komposisi JAZZ mainstrim menjadi ilustrasi Film Animasi (walaupun masih menggunakan karya JAZZ luar) lokal AREMA oleh komunitas Animasi MALANG ini sangat menarik…!!! karena pada media interaksi musik jazz ini bahwa jazz terterima secara interaktif dengan titik utamanya akan sangat efektif…

Dan temen-temen komunitas ANIMASI ini berharap ada banyak karya JAZZ lokal Malang untuk bisa berkolaborasi dengan temen-temen ANIMASI ini,anda bisa bayangkan jika dari beberapa potensi ini disatukan dan kemudian menjadi Character Building Bangsa dimana spirit ini untuk menjawab kisis Indentitas bangsa ini…..!!

silahkan download Video perform:

1.Logic And Inspiration >>>>Singgih Sanjaya

2.ALL OF ME >>>>>> SINGGIH SANJAYA

FILM ANIMASI KARYA KERA_KERA NGALAM

* Kendedes love AREMA (menyusul masih di convert)

A picture is worth a thousand words. Sebuah gambar setara dengan ribuan kata.

Terima kasih buat seluruh MJF-ers atas keikhlasannya untuk terus memasyarakatkan jazz di Malang. Terima kasih pula kepada dedikasi mereka yang menyempatkan pikirannya membuat dan mengusulkan logo buat Malang Jazz Forum. Menurut wikipedia, Logo merupakan suatu bentuk gambar atau sekedar sketsa dengan arti tertentu, dan mewakili suatu arti dari perusahaan, daerah, perkumpulan, produk, negara, dan hal-hal lainnya yang dianggap membutuhkan hal yang singkat dan mudah diingat sebagai ganti dari nama sebenarnya.

Karena itu, mari kita pikirkan bersama bagaimana agar logo ini cepat eksis dan dapat diterima semua ‘warga’ MJF. Karena itu butuh masukan-masukan, saran agar logo ini lebih memasyarakat. Sebab dengan logo itu, kita memiliki ‘tambahan’ amunisi untuk tetap semangat, bersatu padu, bergotong royong, bergandengan tangan untuk kemajuan jazz di Malang.

Sejarah Logo

Untuk menambah wawasan kita, sedikit kita kupas tentang filosofi sebuah logo. Ada istilah kuno di Tiongkok, bahwa Sebuah gambar setara dengan ribuan kata. Ada pula yang bilang pribahasa itu dicetuskan Napoleon Bonaparte di Prancis dengan ucapannya “Un bon croquis vaut mieux qu’un long discours” atau “A good sketch is better than a long speech.” Lebih kurang maknanya sama. Kedua tokoh itu memiliki kesamaan. Sama-sama hidup di jaman dulu dengan muara opini setara. Siapa pun yang mengucapkannya pertama kali tidaklah terlalu penting. Yang jelas adalah pribahasa itu mengalami penguatan dan pengukuhan makna di era informasi ini.

Gambar, simbol, logo, emblem, trademark dan sejenisnya mengalami metamorfosa yang sangat panjang. Corporate dan society identity ini telah dimulai sejak jaman Yunani pada abad XIII. Identitas ini muncul dipicu oleh eksistensi para traders dan merchants. Hal ini terjadi karena ada fakta pembeli tidak dapat melakukan repeat order atas produk berkualitas yang dibeli dari trader tertentu karena kesamaan produk generik. Karenanya, muncullah ide memberikan simbol atau logo agar produk dimaksud bisa lebih bergulir mengikuti deret ukur. Ratusan tahun kemudian, tindakan memperkenalkan identitas ini menjadi semakin kuat dilakukan oleh korporasi lintas sektoral. Tindakan ini bahkan menjadi concern utama corporate untuk semakin berjaya.

Kata Motivator

Menurut motivator asal Malang, Andriewongso , konklusinya dari logo dan simbol menjadi menu utama yang harus diberi atensi dan konsentrasi tinggi ketika mengkreasikan dan menggunakannya. Logo dan simbol yang tepat akan menciptakan komunikasi positif, konstruktif, empatik dan simpatik dengan shareholder dan stakeholder yang ada di lingkungan masyarakatnya. Sebaliknya, korporasi dan organisasi yang tidak memerhatikan unsur psiko-geografis dan kultur masyarakat akan mengalami proses layu sebelum berkembang. Karenanya, mari kita merenungkan filosofi logo atau simbol masing-masing. Semoga sesuai dengan nilai-nilai intrinsik di atas.

Ayo masukan MJF-ers sangat penting. Kemudian kita pikirkan bersama konsep launching logo kita….

Older Posts »