Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Menyambut tutup tahun 2008, Plaza Araya menggelar Jazz Thru The Night. Event ini merupakan kerjasama dengan Malang Jazz Forum. Harapannya, dalam kegiatan ini, tumbuh suburnya jazz di Malang juga dapat berkembang di tahun 2009.

74Karena itu, event ini digelar gratis, untuk memberikan ruang bagi musisi dan penikmat jazz dalam mengekspresikan jazz. Tampil mendendangkan jazz Farbig Band. Grup Jazz satu ini kini memang sedang aktif di berbagai event, tidak hanya di Malang tapi juga di Surabaya. Untuk itu, Rayakan Pergantian Tahun di Plaza Araya, dan Nikmati Hiburan Musik Jazz memikat. Bagi kalian para MJF-ers segera gabung, dijamin gratis. Tempatnya di Plaza Araya, Rabu 31 Desember 2008 mulai pukul 19.00 sampai selesai.

Tahun depan, Jakarta International Java Jazz Festival akan diselenggarakan untuk kelima kalinya. Tetap berlangsung selama tiga hari, Jakarta International Java Jazz Festival 2009 dijadwalkan digelar pada 6, 7, 8 Maret 2009 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta.

Untuk Jakarta International Java Jazz Festival 2009 (JIJJF 2009), Java Festival Production sebagai penyelenggara berencana menghadirkan sederet nama kondang seperti Jason Mraz, Brian McKnight, Swing Out Sister, New York Voices, Ivan Lins, Matt Bianco, Isao Suzuki, Mike Stern, Oleta Adams, Peabo Bryson, David Garfield, Chieli Minucci & the Special EFX, dan Ron King Big Band. Matt Bianco? Semoga tidak batal lagi seperti kemarin.

Di sisi lain, pihak penyelenggara menjanjikan bahwa JIJJF 2009 akan sedikit berbeda dari penyelenggaraan di tahun-tahun sebelumnya, khususnya soal harga tiket. Harga tiket JIJJF 2009 ditetapkan lebih murah dari tahun sebelumnya. Penetapan harga yang lebih murah ini dimaksudkan agar harga tiket dapat lebih terjangkau bagi semua pencinta Java Jazz Festival. Demikian menurut press release dari Java Festival Production.

Info selengkapnya mengenai harga tiket dan hal lain seputra JIJJF, bisa dilihat di situs web resminya: javajazzfestival.com

Diakui atau tidak, musik jazz tidak terlalu familier bagi kebanyakan orang. Tidak seperti aliran musik jenis dangdut, pop dan rock, musik jazz memiliki penikmat tersendiri. Namun, akhir-akhir ini seiring dengan semakin banyaknya event-event musik jazz di gelar terutama di Jakarta, membuat genre musik ini makin banyak di kenal public. Minimal tahu dan mendengar.

jazz-musik1Bahkan banyak pula yang berpendapat, musik jazz adalah musiknya orang berduit dan berdasi serta hanya bisa dinikmati di hotel-hotel berbintang. Tapi apa benar seperti itu citra musik jazz ? Tunggu dulu, bagi Farbig citra itu kurang tepat.

Grup band bergenre jazz di Malang ini mencoba menghapus stigma tersebut. Sejak 2005, Farbig berusaha membangkitkan jazz kembali di Malang dengan cara mereka. Band yang digawangi lima personel ini sudah kenyang manggung antar café dan hotel. Mereka adalah Ping yang pegang Bass, Ogut pegang Keyboard, Musa pada Gitar, Dedy pada Drum dan Wina pada Vokal.

Penampilan yang good looking, menjadi salah satu modal bagi grup band jazz. Sehingga tidak salah, saat manggung di De Liv café kemarin malam mereka sangat rapi. Empat cowok tampil formal dengan celana dan kemeja warna pastel dipadu dengan rompi rajutan. Sedangkan Wina, satu-satunya personel cewek menggunakan blus warna hitam formal.

”Tampil formal bukannya sok ngelit. Kami mengikuti tempat kami perform saja,” ujar Wina kalem. Menurutnya, dengan tampil di balkon hotel ataupun café akan sangat sulit bagi mereka untuk perform kostum casual. Wina lantas menyebutkan sejumlah musisi luar negeri yang memang suka berpenampilan formal, seperti Michael Bubble, Dave Bruback, ataupun mendiang Nat King Cole.

Namun bukan berarti jazz harus berpenampilan formal. ”Jammie Cullum kan juga suka berkostum street wear,” kata Wina mencontohkan salah satu musikus jazz muda dari Inggris yang saat ini sedang naik daun.

Ketika tampil, Farbig selalu membawakan lagu jazz yang ada dalam buku dasar jazz. Selain itu, mereka juga mengaransemen sejumlah lagu top hits Indonesia dengan aransemen Jazz.

Wina menegaskan, musik jazz Farbig di mainkan sesuai dengan pakem jazz aslinya. Namun aransemen musik Farbig, ucap Ping, banyak memainkan Synchope dipadu dinamika antara Accord dan Chromatic, membuat musik jazz ala Farbig penuh ritmik dan lebih nge-beat.

Menurut Ping, sebenarnya dasar musik jazz memang telah ada di setiap genre musik. Di Malang pun telah lahir sejumlah musisi jazz yang karyanya telah diakui secara nasional, ”Ada Bertha, Syaharani, dan Abadi Susman, mereka adalah beberapa musisi jazz nasional asal Malang,” kata Ping yang telah lama menekuni musik jazz.(malangpost)

* Catatan DJ Oko Tim Media MJF dari Dji Sam Soe JakJazz 2008 ’A Whole Lotta Jazz’ (2)

jakjazz2008Gelaran Jak Jazz 2008 benar-benar meriah. Delapan panggung pada festival tahun ini benar-benar membuat para jazz lovers bingung untuk memilih menonton penampilan para musisi favorit mereka pada hari ke-dua ini. Bermain pada waktu bersamaan, Indra Lesmana Reborn, Daniel Sahuleka, dan Barry Likumahuwa Project merupakan salah satu penampilan yang ditunggu-tunggu di festival JakJazz tahun ini.
Benar saja, tiga panggung di JakJazz festival ini sudah dipadati ratusan para jazz lovers. Salah satu yang ditunggu-tunggu adalah Indra Lesmana Reborn, area Dji Sam Soe Concert hall sudah dipenuhi para jazz lovers untuk menikmati alunan musik yang mereka bawakan. Pada JakJazz Festival tahun ini, Indra membawa para penyanyi muda dewasa untuk mengiringi beberapa lagu, dan seperti biasa permainan yang penuh dengan improvisasi dan spontanitas mereka suguhkan dengan sangat menarik.
Simak juga panggung Skyline Terrace yang menampilkan Daniel Sahuleka melakukan solo hanya dengan menggunakan gitar akustik. Suara khas penyanyi asal Indonesia yang menetap di Belanda ini menghangatkan para jazz lovers yang bernostalgia dengan lagu-lagu yang ia bawakan. Lalu di panggung Amphitheatre Barry Likumahuwa project memukau para jazz lovers yang menyaksikan secara langsung. Permainan bass yang piawai oleh Barry benar-benar luar biasa, terlebih lagi pada beberapa lagu ia berkolaborasi dengan sang ayah, Benny Likumahuwa.
Menjelang tengah malam, tidak habis-habisnya jazz lovers dimanjakan oleh penampilan musisi lokal dan Internasional. Masih ada musisi jazz kawakan Ireng Maulana yang mengajak penyanyi muda dewasa berbakat Afgan dan Andien. Lalu ada grup asal Amerika Open Hands Project, Penyanyi popular Andre Hehanusa, DJ Shuya dan masih ada beberapa lagi musisi yang akan menghibur malam minggu anda.
Bersiaplah untuk hari terakhir pergelaran dari festival jazz bertaraf internasional yang dibanjiri oleh musisi lokal dan internasional pada Minggu 30 Nopember 2008, akan ada penampilan Andre Crouch, The Yellowjackets yang akan berkolaborasi dengan Tohpati, Syahrani and The Queenfireworks, Roland Van Straaten, Kiboud Maulana & Friends dan masih banyak lagi. Khususnya yang tidak boleh dilewatkan adalah penampilan dari kolaborasi 10 musisi jazz Indonesia dalam rangka merayakan 10 tahun edisi festival JakJazz di Indonesia. (**)

* Catatan DJ Oko Tim Media MJF dari Dji Sam Soe JakJazz 2008 ’A Whole Lotta Jazz’ (1)

Pada hari pertama JakJazz Jumat 29 Nopember 2008, ratusan musisi jazz nasional dan internasional telah meramaikan delapan panggung megah yang tersebar di area indoor dan outdoor Istora Senayan – Jakarta; seperti Ray Harris & The Fusion Experience dari Inggris dan Kyoto Jazz Massive dari Jepang. Dari daftar musisi nasional, ada Idang Rasjidi & The New Generation, Oele Pattiselanno Trio feat. Dira & Chika Asamoto (kolaborasi Indonesia dengan Jepang) Devian feat. Dina Mariana, dan masih banyak yang lainnya.
Di hari kedua, JakJazz kembali dihujani karya-karya terbaik para musisi yang terlibat di dalamnya. Sebut saja Daniel Sahuleka (Belanda), DJ Shuya (Jepang), Indra Lesmana Reborn, Barry Likumahuwa Project feat. Benny Likumahuwa & Utha Likumahuwa, dan yang pasti special show dari Open Hands Project: Abraham Laboriel (AS).
JakJazz dibuka sekitar pukul 17.00 dengan menampilkan beberapa band jazz berbakat di Orion Stage, Community Stage, dan Welcome Stage. Mereka cukup apik membawakan beberapa komposisi jazz dengan menawarkan harmonisasi segar seperti The Doctor Band, Zinnia, La Belle,
Di area Jazz on Green, jazz lovers nampak terpukau oleh permainan trio gitar Agam Hamzah Accoustic Connection. Dilatarbelakangi dengan pelangi yang turun pasca hujan, trio gitaris akustik dan satu basis ini bermain sangat cantik. Dentingan senar gitar dan luwesnya jari mereka membuat kagum jazz lovers yang menikmati alunan gitar mereka. Agam juga menghadirkan penyanyi blues asal London, Sue Bennington, untuk berkolaborasi dengan membawakan lagu-lagu blues, yang perlahan membuat area Jazz on Green mengundang para jazz lovers untuk mampir dan melihat penampilan mereka.
Menyambut malam hari, festival ini terasa semakin meriah dengan penampilan dari musisi jazz yang sudah berpengalaman di panggung jazz. Salah satunya adalah penampilan dari Iga Mawarni yang menarik para jazz lovers untuk meramaikan area Amphitheatre, walaupun area tersebut dipenuhi dengan genangan air pasca hujan. Iga yang merupakan salah satu musisi senior jazz Indonesia menghibur ratusan jazz lovers dengan membawakan tujuh lagu. Performa atraktif juga ditampilkan oleh Boi Akih feat. Mieke Del Ferro (Belanda) yang membawakan lagu-lagu dengan bahasa Harukunese. Walaupun menggunakan bahasa yang kurang dimengerti oleh berhasil jazz lovers, sang vokalis yang mempunyai nama lengkap Monika Akihary ini memikat para jazz lovers di concert hall dengan suaranya yang khas.
in halnya di panggung skyline terrace. Permainan keyboard Ray Harris kembali memanjakan jazz lovers yang berada di area tersebut dengan beat dan rhytm yang kompleks namun masih ramah di telinga. Gayanya yang khas dan penuh improvisasi membuat para jazz lovers ikut bergoyang mengiringi alunan musik yang mereka mainkan. (**)

Siapa bilang musik jazz hanya bisa dinikmati kaum menengah dan elite. Anggapan jazz sebagai milik kalangan atas itu yang hendak dikikis Malang Jazz Forum (MJF). Untuk mereduksi anggapan tersebut, kemarin malam MJF menggelar konser bertajuk One Day with Jazz di tepi jalan depan sebuah kafe lesehan Jalan Soekarno-Hatta.

Dalam even itu, ratusan pemusik dan pecinta jazz -mulai pelajar SMA, mahasiswa, hingga yang tua- berkumpul. Mereka tampak gayeng saat menikmati suguhan jazz dari sejumlah grup seperti Abigail  Rhythm, Farbig, Bukit Berbunga, Andro Jeans, Black Jack dan Plus One. Personel band-band itu satu per satu menampilkan lagu-lagunya, baik yang bersyair maupun tanpa syair. Beberapa pemain jazz pemula juga diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya bersama musikus jazz senior.

Pecinta jazz terlihat menikmati jazz sambil lesehan dan ditemani secangkir kopi atau minuman lainnya. Suasana itu menunjukkan bahwa musik jazz yang biasanya ditampilkan di tempat-tempat elite kini dimainkan  di tempat ramai dengan penonton semua lapisan.

“Even ini sengaja dikemas santai karena acaranya untuk kumpul-kumpul dan melepaskan kerinduan sesama pecinta jazz. Bahkan ada yang ingin belajar jazz dari MJF,” ujar salah satu panitia, Wina.

Melalui acara ini, diharapkan semakin banyak pecinta jazz di Malang. Diharapkan pula, di Malang tumbuh subur band-band jazz baru sehingga perkembangannya tidak kalah dengan kota lain di Indonesia.

Sebenarnya, pecinta jazz punya waktu berkumpul. Sebab, dalam seminggu, ada dua even rutin live performance jazz di Malang. Yakni di De Liv Cafe dan Hotel Santika. Namun, karena pertemuan di lokasi itu dianggap terlalu eksklusif, anggapan bahwa jazz hanya dinikmati kaum elite tetap terpelihara.

Dari situlah, MJF ingin menggelar konser yang berbeda. MJF sengaja tampil di luar kafe atau hotel. Misalnya, manggung di tepi jalan seperti di Jalan Soekarno-Hatta itu. MJF juga berencana main di sekolah dan kampus. “Jazz itu universal, bisa dinikmati siapa pun dan di mana pun. Karena itu, kami ingin jazz bisa ditampilkan di mana saja. Bukan hanya kafe dan hotel,” ucap Wina. ( Radar Malang-Jawa Pos)

Suasana Café Aquinos di Jalan Sukarno Hatta Rabu malam (26/11) lalu amat semarak. Sebuah pergelaran yang menyatukan para pencinta dan sederetan musisi Jazz dilangsungkan. Para musisi yang tergabung dalam Malang Jazz Forum (MJF) menghipnotis ratusan pengunjung Café tersebut.
Melalui MJF, musik Jazz benar-benar mampu ber-reinkarnasi sebagai musik milik semua kalangan. Di Cafe Aquinos, musik Jazz bermutu mengalir dari musisi-musisi berbagai jenis profesi harian. Sebut saja Habib Alwi sebagai pemilik Café Aquinos, sampai Heri pembetot bass Blackjack yang sehari-hari menjadi tukang ojek di Turen.
Namun jangan salah, lewat keandalan tangan Heri, Black Jack mampu menyuguhkan musik bermutu yang bercitarasa tinggi. Simak saja nomor cantik karya grup asal Turen itu, judulnya Little Bubb’in. Musik kaya interpretasi tersebut mengalir menyejukkan para penikmat Jazz di pergelaran MJF.
Berturut-turut, trio Black Jack, Yuda pada Drum, Heri pada Bass dan Nur pada gitar meracik musik berkelas itu. Lagu bertajuk Spain dari Al Jearo membuktikan kapasitas bermusik Jazz dari trio asal Turen tersebut. penonton pun dibuat terkesima dengan suguhan Jazz ala Black Jack.
Suasana makin hangat saat Abigail Rhythm yang digawangi Andika (Keyboard), Dedy (Drum) dan Berry (Bass) membawakan aransemen garapan mereka sendiri. Performa Andika lebih menonjol lewat kemampuan improvisasinya. Maklum saja, Andika adalah siswa salah satu sekolah Musik di Yogjakarta.
“Dari seluruh musisi yang tampil, Abigail memang sering tampil di hotel-hotel, Santika serta Café De Liv,” uajr Wina Humas MJF sekaligus penyanyi Jazz kelompok Far Big.
Menurut Wina, MJF ini beranggotakan 170 orang dari berbagai kota dan berbagai kalangan. Kata dia, Jazz adalah musik semua orang, tanpa mengenal kelas dan umur. Pantas saja, selain didatangi musisi sepuh sekelas om Atim (56 tahun) pemain Saxophone. Acara itu juga dihadiri musisi Biola muda seperti Fania dai Univ Machung.
Kolaborasi lintas umur itu, terdiri dari Om Atim, Fania, Om Ping (Bass) Dedy (Drum), Andika (Keyboard) dan Felani pada vokal mampu membawa penonton rilek menikmati lagu Around The World. Perhetalan tersebut berakhir manis, lewat tembang Sempurna karya Andra and The Backbone secara Jazz oleh Wina.(ary) (bagus ary/malang post)

Harapan untuk kumpul lagi para pecinta jazz akhirnya jadi juga. Malang Jazz Forum (MJF) akan menggelar kegiatan kumpul, berkreasi dan berinteraksi antar penikmat dan pelaku untuk mengungkapkan ekspresinya. Luamayan, setiap satu bulan sekali kita ngumpul, nimbrung, berkreasi, jam sesion silahkan.

logo-malang-jazz-forumTajuk acaranya One Day with Jazz. Pertemuan perdananya akan digelar Rabu, 26 Nopember 2008 pukul 19.00-24.00. Mau tahu tempatnya, asyik di The aquanos-Cafe and Pujasera Jalan Soekarno Hatta. Gampangkan carinya. Disana nanti kita rutin bertemu, untuk rangkaian acaranya, yang jelas makin banyak yang datang, makin banyak yang akan dibicarakan, makin banyak pula yang akan tampil berjazz ria. Untuk lengkap informasinya bisa kontak saudari Wina, masih di 08179606944. Ayo Kumpul, One Day with Jazz.

Menunggu Kumpul MJF

Bila tidak ada halangan, para pecinta jazz di Malang, tidak hanya yang tergabung dalam Malang Jazz Forum (MJF), tapi pecinta jazz akan mengintenskan kembali pertemuan, tidak sekedar menikmati musik jazz, tapi juga berbincang ringan seputar jazz di Malang.

Intensitas untuk berteemu, tentu penting untuk membangun silaturahmi, sekaligus membangun saran dan masukan bagi semua pecinta jazz di Malang, agar kedepan ada semacam rutinitas, dan kesatuan dalam event, gerak dan nafas untuk jazz di Malang.

Bila tidak ada aral melintang, pertemuan untuk tahap awal rutin akan digelar setiap minggu kedua  dalam setiap bulannya di sebuah ‘warung’ santai di kawasan Soekarno Hatta. Selain pertemuan juga bisa kita lakukan dimana ada event gelaran jazz berlangsung. Sementara kita belum sebutkan lokasi tepatnya, maklum biar penasaran. Pertemuan itu diharapkan terbangun kebersamaan, saling memberi saran dan masukan. Yang pasti, jam session wajib digelar. Nanti, gantian secara ikhlas, bila rekan-rekan yang memiliki bakat jazz untuk tampil, baik grup, kemampuan pribadi, atau campuran. Yang penting kompak dan ramai.

Karena itu, agar kemasannya tidak melulu musik, bisa diberikan masukan dan saran kemasannya. Terpenting MJF eksis, eksis tidak sekedar menambah jumlah anggota, tapi kualitas pertemuan. Menggagas event bersama, mau bikin buku, atau mau memperbaiki blog ini, atau ada launching album, sampai mungkin klinik. Masukan kalian tentu berharga. Jangan lupa tunggu kabar berikutnya.

Redaksi MJF mendapatkan informasi agar memberi semangat kepada para musisi jazz di Malang dan MJF-ers agar berkesempatan tampil di JakJazz ’08 pada 28-30 Nopember 2008 mendatang. Kami terima info kali pertama pada 10 Oktober 2008, dari seorang yang bekerja di sponsor kegiatan akbar itu. Lewat SMS, beliau meminta kontak MJF, termasuk email MJF. Pada Sabtu, 11 Oktober 2008, kabar itu makin menguat agar rekan-rekan MJF bisa menembus Jak Jazz 08, setelah sekitar pukul 08.30 pagi kami mendapatkan telpon dari Bapak Tutuko, penikmat Jazz yang juga bekerja di sponsor program itu, agar rekan-rekan menyiapkan diri mengikuti audisi. Bapak Tutuko, tidak dapat menyampaikan ini secara tatap muka karena kebetulan sedang bertugas di luar kota. Namun, pihaknya telah melakukan komunikasi informal dengan pihak organizer penyelenggara audisi Jak Jazz ’08. “Mohon bantuannya ya Mas. Ayo kita saatnya bisa tampil di Jak Jazz,” begitu kata singkatnya ke redaksi MJF.

Semangat itu, langsung kami tindaklanjuti dengan meminta kontak ke penyelenggara. Sebab, sampai tiga hari berjalan email MJF di malangjazzforum@yahoo.com, belum menerima kabar soal audiensi itu. Kegelisahan kami akhirnya terjawab setelah pada Senin 13 Oktober 2008, kami putuskan untuk bertemu untuk meyakinkan soal ‘undangan’ itu. Akhirnya setelah kami sampaikan belum diterima email dari panitia, akhirnya pak Suraji mengontak ke Jakarta.

Alhamdulillah, sekitar pukul 19.00 setelah setiap detik kami cek email MJF, surat itu baru muncul yang dikirim JakJazz New Breed Contest. Register Now!

Tanpa tunggu lama, kami sebarkan info itu melalui forum ini. Semoga saja dengan mepetnya waktu ini, tidak menyurutkan rekan-rekan MJF untuk berapresiasi, kendati kita sangat memahami, waktu yang mepet khawatir kreatifitas rekan-rekan tidak maksimal. Namun, kesempatan itu juga membuat kami khawatir tidak muncul untuk kali berikutnya. Karena itu, manfaatkan saja kesempatan ini sebaik-baiknya dalam kondisi yang kurang maksimal. Perjalanan waktu yakin membuat kita lebih bersemangat dan sukses mewarnai JakJazz 08.

Atau ada usulan gimana mulai sekarang kita gagas untuk nonton bareng Jak Jazz ’08. Segala prosedurnya yuk kita bahas bareng-bareng. Monggo diatur saja. Untuk tahu seputar JakJazz’08 termasuk tiketnya check di www.jakjazz.com

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.