Rangkaian kegiatan dimulai sekitar pukul 16.30, meski acara dimulai agak telat satu setengah jaman, tapi animo yang hadir terus mengalir. Sebelumnya, MC yang ‘disumbang’ dari rekan-rekan muda mahasiswa Universitas Brawijaya meminta semua yang hadir memperkenalkan diri, suasana awal makin mengakrabkan semua yang hadir di kampus yang berada di kawasan Jalan Borobudur Malang itu. Semua yang datang, duduk lesehan diatas tiga rangkaian panjang karpet berwarna merah.
Koko menilai mengembangkan genre musik satu alatnya adalah komunikasi. Harapannya, dengan adanya MJF itu terjalin sebuah komunikasi antar semua pihak. Koko sangat menyambut positif berdirinya MJF, dia berharap lahir generasi- generasi baru jazzer asal Malang dengan prestasi mendunia.
Usai perkenalan,acara agak serius mulai begulir. Jaya Idris dari Radio Citra Malang yang didapuk sebagai moderator dalam dialog jazz sebagai sesi pertama gathering, memperkenalkan secara detail profil Malang Jazz Forum.
Mengenalkan MJF, makin lengkap dengan dukungan sebuah big screen dan lensa tajam yang detail menggambarkan MJF. Usai itu, Jaya coba melempar pendapat tentang MJF. Tampil angkat bicara pertama, Pak Syamsul. “Saya ingin wadah ini langgeng. Semua pihak mensupport untuk kemajuan jazz di Malang”, kata Syamsul yang juga ayah Dita, vokalis Toke’ n friend.
Syamsul mengingatkan lagi sejarah perkembangan jazz, bahwa jazz lahir bukan untuk para orang tua yang sengsara. Memang, kata Syamsul, lahirnya jazz dari sebuah komunitas yang tertindas. Tapi, bukan berarti perkembangannya, jazz identik dengan kesengsaraan.
Sebaliknya, Syamsul menegaskan, jazz bukan hanya dinikmati kalangan elit saja. Tapi, jazz harus berkembang ke semua kalangan. Syamsul sempat menyinggung agar jazz tidak hanya digelar di tempat-tempat yang orang beranggapan harus memiliki kantong tebal. Karena itu, Syamsul berharap forum ini dapat terus menerus menyampaikan kepada publik untuk menetralisir dan meluruskan anggapan itu.
Dialog makin lestari, meski hampir beberpa menit listrik padam, dan ‘sedikit’ membuat panik panitia. Beruntung, genset segera membackup kebutuhan ‘energi ‘ kegiatan, dan gatheringpun berlanjut. Dialog dilanjutkan setelah Toke’n friend tampil memukau dengan dua lagu karya mereka Semu dan Hentikanlah Waktu. Moderator dialog dalam sesi lanjutan ini menghadirkan Om Ping (bass Farbig), tokoh musisi Malang Om Sigit dan Mamek, dan Tutuko dari Sampoerna.
Om Sigit ketika ditanya pendapatnya tentang MJF, dan umumnya kendala apa yang muncul dalam sebuah wadah seni. Om Sigit menilai selama mengamati perjalanan tiga bulan MJF berdiri sejak 20 Maret 2008 lalu, praktis tidak ada kendala yang dia lihat. Justru, terus melakukan upaya-upaya mengembangkan wadah terebut.
Sementara Tutuko mengaku jujur mengawali statemennya, “Saya merinding. Yang datang begitu banyak . Terus terang saya merinding ada di forum ini,”katanya. Tutuko berpendapat untuk memajukan jazz di Malang, perlu pandangan kedepan. Masa lalu memang penting, agar dalam melangkah semua pihak dapat melakukan evaluasi. Tapi, terpenting adalah perlu ada orientasi kedepan agar MJF ini benar-benar menjadi wadah yang dapat memajukan jazz di Malang.
Tutuko menyambut baik masukan Pak Syamsul, sebagai sponsorship, memiliki komitmen untuk mengembangkan jazz di Indonesia pada umumnya, tapi Malang khususnya. “Terus terang, kita menggelar jazz tidak hanya memberi kontribusi saja, tapi juga dipikrikan dampak positifnya terhadap sponsorship. Tapi, kita tidak menutup diri, bila jazz digelar di tempat-tempat lain yang dapat di akses semua kalangan, seperti menggelar jazz di tempat yang terbuka.
Dari kalangan musisi, Om Ping berharap dalam gathering ini muncul beragam masukan dan saran, akan dikemanakan MJF kedepan. “Apakah cukup dengan sekedar kumpul-kumpul main musik, apakah perlu semacam struktur dan program atau seperti apa,”ujar Om Ping.
Om Ping menyampaikan MJF berdiri secara tidak sengaja, ini semua karunia Tuhan. Sebelumnya para penikmat jazz kumpul di beberapa event yang digelar , seperti Jazz in The City yang bergulir setahun lalu. Dari acara kumpul-kumpul berkembang membicarakan akan kebutuhan membentuk wadah. Sekarang, wadah sudah terbentuk, apakah perlu ada struktur definitif atau belum mengarah kesana, tanya Om Ping.
“MJF bukan milik satu intitusi, satu media, satu pihak saja. Tapi milik bersama. Seperti halnya acara ini digelar atas kebersamaan,”paparnya. Om Ping lantas berfilosofi, bahwa semua aliran musik itu adalah karunia Tuhan, seperti halnya jazz. Karena itu, perlu diemban sikap simpati dan empati untuk saling menghargai, demikian pula dalam MJF.
Sedangkan Mamek, musisi gaek Malang ini menyampaikan sebagian besar kerangka pikir orang bahwa jazz itu memiliki prestise milik orang-orang elit. Penilaian itu, kata Mamek, sangatlah keliru. Karena musik itu ciptaan Tuhan, maka semua orangpun memiliki hak yang sama untuk menikmatinya. Kehadiran MJF, lanjut Mamek, sangat memberi makna dalam khasanah musik, utamanya jazz di Malang. “Karena itu saya menyampaikan selamat. Dan selamat berekspresi,” tutur Mamek disambut riuh tepuk tangan.
Dialog gayeng itu makin bernilai, ketika tersambung dengan Koko Harsoe, musisi jazz asal Malang yang kini tinggal di Bali. Meski tersambung lewat ponsel agak kurang jelas. Tapi, Jaya Idris yang memandu dialog dengan Koko Harsoe coba meminta pandangan Koko soal MJF. Koko menilai mengembangkan genre musik satu alatnya adalah komunikasi. Harapannya, dengan adanya MJF itu terjalin sebuah komunikasi antar semua pihak. Koko sangat menyambut positif berdirinya MJF, dia berharap lahir generasi- generasi baru jazzer asal Malang dengan prestasi mendunia.
Beberapa pendapat muncul ketika Jaya melempar sesi pendapat dari mereka yang hadir. Didik Jengjing, satu diantara pegiat seni di Malang ini menyampaikan beberapa hal yang menjadi kebutuhan sebuah wadah. Diantaranya, MJF diharapkan menjadi wadah silaturahmi yang jitu untuk bicara jazz, selanjutnya layaknya sebuah organisasi butuh legalitas agar dalam melangkah ada yang menjadi acuan hukumnya. Perlu dipikirkan event dan program rutin kedepan.
Karena makin berjalannya waktu, sementara tampilan band-band jazz masih cukup banyak. Sesi dialog dilanjutkan dengan berpindah ke media tulis. Semua yang hadir diminta menulis opini, masukan dan saran melalui sebuah kertas warna warni. Beragam pendapat bermunculan, agar dapat dibaca semua khalayak, panitia menempelkannya ke sejumlah pilar penyangga bangunan Padepokan Seni itu. Menariknya, dari sekian yang hadir turut bergumam. Kapan Gathering berikutnya digelar ?