Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk April, 2008

JazziLAcious, Merakyatkan Jazz di Unibraw

Atmosfir jazz di Malang mulai semarak. Kalangan mahasiswapun mulai tergerak menggarapnya. Sebuah event seharian penuh ngejazz akan digelar di Universitas Brawijaya Malang. Event itu bertajuk JazziLAcious digelar Sabtu 17 Mei 2008 mendatang. Semarak jazz ini akan digelar di halaman parkir Gedung Samantra Krida Universitas Brawijaya. Menurut, Erfan, Ketua Pelaksana mengatakan, tujuan kegiatan ini untuk memperkenalkan jazz kepada kalangan mahasiswa. Selain itu, memberikan acara ini memberikan sentuhan yang beda pada seiap kegiatan musik di kampus Unibraw. Karena kebetulan, event ini juga diramaikan dengan bazar juga kompetisi tatto temporer.

Latarbelakang digelarnya event ini, karena di kampus Unibraw jarang digelar event jazz. Terakhir, digelar fesitfal jazz bertajuk Kharisma. Sambutan mahasiswa begitu luar biasa dalam event tersebut. ” Selain itu tujuannya untuk merakyatkan jazz kepada mahasiswa. Karena banyak anggapan termasuk dari mahasiswa jazz hanya untuk kalangan eksekutif dan elit,”ujarnya.

Jazz Masuk Kurikulum Kuliah ?

Menarikya, acara yang diselenggarakan mahasiswa Jurusan Komunikasi Massa Fakultas Ilmu Sosial Unibraw ini, kegiatan ini digelar bagian dari proses kuliah untuk mata kuliah Manajemen Entertainment. ” Mata kuliah ini memiliki tiga SKS. Acara ini sebagai tugas ujian tengah semester. Karena itu harus dikemas dengna baik dan sukses. Bila tidak sukses, kita khawatir nilainya jelek,”ujar Erfan bersemangat kepada MJF Media.
Dalam event ini digelar kompetisi musik jazz dengan kuota 15 grup yang tampil dari lingkungan Unibraw. Festifal dimulai pukul 10 pagi sampai 4 sore. Malamnya dilanjutkan penampilan musisi jazz asli Malang seperti home band Brawijaya, home band FIS, Farbig, Arafuru, dan Tokek and Friends. Selain itu, kata Erfan, akan hadir komunitas Malang Jazz Forum. HAdirnya, komunitas yang berdiri 20 Maret 2008 lalu itu/ bisa memberikan khasanah dan wawasan tentang jazz kepada kalangan mahasiswa.
Erfan mengungkapkan pula bahwa acara ini mendapat dukungan luar biasa dari Dekan FIS Prof Dr Ir H. Darsono Wisadirana, MS, serta kordinator bidang kemahasiswaan ahmad muafik Saleh, S. Sos, Msi. ERfan berharap event jazz ini bisa rutin digelar di kampus. Karena dengan musik jazz ini, mahasiswa akan lebih kreatif dan beragam dalam bermusik.

Untuk mentranslate bahasa

Minggu, 13 April 2008, bertempat di markas G-Production Jl Permata Jingga Blok AA/27 Kota Malang, bersambung digelar pertemuan. Biasa, yang hadir diundang melalui pendekatan kultural dengan melakukan getok tular. Tentu, undangan gaya kultural itu diharapkan mampu membangun komitmen bersama dengan itikat baik, inisiatif moral untuk memasyarakatkan jazz di Malang Raya.

malang jazz forum

Layaknya sebuah acara kumpul-kumpul, sambutan awal dibuka tuan rumah, Brilli sebagai ‘komandannya’ G Production dengan gaya bahasa anak mudanya, jujur, tegas dan kongkrit. Maksud pertemuan itu digelar untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang telah turut memberkahi suksesnya gelaran jazz yang telah mereka gelar sejak dekade Agustus 2007 sampai Jumat 11 April 2008 lalu dengan event Tribute Jak Jazz Super Premium Dji Sam Soe di Hotel Santika. Ucapan terima kasih lepas ikhlas dari bibirnya kepada semua musisi yang mengisi kegiatan regulernya, kepada Hotel Santika, kepada sponsorship, dan paling utama kepada penikmat jazz serta kalangan media. Banyak evaluasi yang muncul dari ‘kejujuran’ brili sebagai event organizer yang konsen pada musik jazz. Tapi ada satu kalimat yang membuat haru biru. Kalau tidak keliru brili menyampaikan jujur bahwa sebenarnya mengurusi jazz tidak banyak memberikan keuntungan. Tapi bukan berarti berhenti, tapi justru membuat G Production tertantang terus konsen ke jazz. Itu karena komitmen dan motivasi serta dukungan tanpa lelah semua yang terlibat mulai musisi, media maupun sponsorship.

“Jazz is the most democratic music. It’s the manifestation of democracy into music.”

– Irvin Mayfield

Semangat itu, kata brili, makin menjadi-jadi ketika semua dukungan itu terjalin dalam wadah Malang Jazz Forum yang terbentuk 20 Maret 2008 itu. Kejujuran brili tidak hanya terhenti disitu, dia juga merasakan bahwa jazz ini harus lebih memasyarakat. Tidak terkungkung dengan image bahwa jazz harus tampil di tempat dan suasana yang eklusif. Bahkan, brili mengungkap bahwa ada anggapan jazz tidak ‘laku dijual’, sampai suksesnya event jazz hanya diukur dari berapa sajian yang terbeli. Brili jujur, hal itu bukanlah menjadi jangkaunnya. Dia mengaku hanya memikirkan bagaimana mengemas dan menyiapkan sebuah program jazz dengan tetap memasarkan tapi dalam koridor posisinya sebagai EO.

Respon ‘kejujuran’ brilipun bersambut. Om Ping memberikan pemahaman, bahwa komitmen ‘berjuang’ di jalur jazz memang perlu ditekankan, bahwa mereka harus siap ‘tidak laku’. Tidak laku bukan berarti membuat putus asa untuk terus memasarkan jazz. Tapi dengan membangun sebuah komitmen dan motivasi bersama melalui sebuah forum, diharapkan ada kebersamaan untuk bersama-sama mengembangkan jazz. Karena itu, Om Ping ingin agar kesan senioritas, kesan ‘paling kemejezz‘ di kalangan musisi mulai dikurangi. Yang perlu dikedepankan, saling belajar, mengevaluasi demi kemajuan, termasuk ikhlas dan proporsional, utamanya bagi kalangan musisi dalam menempatkan porsi segmentnya band masing-masing.

Semakin variatif karakter band jazz, akan semakin beragam khasanah musik jazz di Kota Malang. Hal itu, kata om ping harus dihargai bukan justru melemahkan. Hal senada juga disampaikan Mas Aji dari Radio Citra Malang, perlu ada variasi program, agar pecinta jazz yang beranggapan bahwa jazz yang dihadirkan di tempat mewah hanya bisa diakses kalangan tertentu. Seperti digelar jazz jalanan atau jazz on the street minimal memiliki orientasi untuk lebih memasyarakatkan jazz. Tapi bukan berarti mengkerdilkan jazz yang digelar di tempat-tempat yang dianggap mewah oleh sebagian orang. Sebab jazz harus tetap ada di mana-mana.  Selain itu, intensitas pertemuan juga perlu dilakukan dengan mengundang lintas pihak. Seperti sponshorship, pengelola hotel atau tempat event. Tujuanya adalah untuk meminimalir kondisi-kondisi di lapangan ketika muncul. Sebab, nikmatnya alunan jazz banyak hal yang mendukung. Mulai kualitas sound, kualitas atmosfir jazz, maupun perangkat lainnya. Tujuannya satu memberikan kepuasan kepada musisi yang sedang berkreasi, memuaskan penikmat yang sedang berapresiasi, termasuk merangsang dedikasi dari kalangan sponsor. Tujuannya semua satu membangun kualitas musik serta komunitasnya. Dari sekian obrolan yang muncul dalam pertemuan itu berharap agar intensitas pertemuan termasuk silaturahmi antar pecinta jazz juga anjangsana dengan para tokoh-tokoh jazz di Malang perlu ditingkatkan. Event-event kultural untuk mempererat jalinan sesering mungkin perlu digelar dengan mengendepankan tujuan yang sama agar jazz ini tumbuh kembang di Malang di semua kalangan. Jangan cepat puas ketika dicintai, jangan cepat bringas ketika dicaci. Tapi tetap rendah hati, intropeksi, selalu berlari untuk berkreasi. Amin.

Untuk mentranslate bahasa

All,
Saya sangat senang mendengar di Malang sudah muncul Malang Jazz Forum. Sepertinya kita mengulang atmosfir puluhan tahun yang lalu, ketika masih ada Almarhum Pak Salam dan Pak Salim (twin brother-brass section), Om Azis (brass section) dll yang semuanya itu adalah orang2 yang sangat-sangat concern dengan dunia musik jazz. Dari tangan beliau-beliaulah banyak muncul musisi Malang. Saya sangat menghargai bentukan forum ini….. Bravo
Tapi ada hal yang mungkin tidak boleh di lupakan adalah ketika kita membangun sebuah image/icon/ apapun namanya, hendaknya kita pikirkan bagaimana merawat hasil bentukan tersebut. Misalnya saja di adakan diskusi/kumpul2/ atau apapun bentuknya secara periodik, saling memberikan input, atau buat event kecil-kecil dengan market yang jelas (misalnya kampus, mall, atau kalau mungkin di sebuah cafe di malang…. why not…)
Kita mulai dari hal yg kecil dulu, di ekspose lewat radio atau TV Lokal di Malang secara periodik.
Mungkin sekali waktu kita (forum ini) perlu mengundang mereka (jemput bola) pelaku2 jazz masa lalu seperti Om Azis (brass section), Mbak Ani khusnu (vocal), Didik Kompol (guitar – mungkin sekarang masih di Australia), Mas Dodot (piano di bali), kokok and lolok (guitar and piano – sekarang lagi di bali) dan temen musisi angkatan di bawah mereka, ada mas Tatok (drum), Anis (bass), Kiki (bas) Helmy (bass), Hestu (guitar), mamek (vocal), dll atau musisi2 muda dan group band sekarang yang concern juga di jazz.
Terlebih lagi akan lebih berwarna turut juga di undang para owner cafe di malang. Saya rasa mereka juga penting karena mereka juga pelaku bisnis entertainment selain musisi. Dan mungkin juga para manager hotel di malang.
Terakhir… harapan besar kita semua pecinta jazz adalah jangan sampai pernah ini sebagai ajang untuk saling menonjolkan satu dengan yang lain, tapi justru saling mendukung satu dengan yang lain, agar suasana guyub dan persaudaraan tetap terjaga, karena semua musik di dunia ini adalah ciptaan TUHAN dan kita patut untuk bisa saling menghargai dan menjaga.
Bravo……. untuk Radio Citra Malang, Sampoerna, temen2 “G” Production-EO, temen2 musisi dan penikmat musik jazz.

Terus berkarya….. dan tetap SEMANGAT….

Kontak :
Ping Pradhana
Jln. Besi No 1 – Kavling 7 Malang
Telp : 0341-7031497
0341-402085
0812 331 2262

Regards,
Ping Pradhana

Untuk mentranslate bahasa

Lebih dekat Koko Harsoe

Gitaris Asal Malang, Ngejazz di Bali

Satu lagi seorang gitaris jazz dari Bali yang baru saja mengeluarkan sebuah album baru yaitu Koko Harsoe dengan albumnya yang berjudul ‘Mainan’. Album ini sekaligus juga sebagai album pertamanya. Dalam blantika musik jazz di Bali sosok Koko ini tidaklah begitu asing. Gitaris kelahiran Malang ini kelihatannya harus berjuang untuk memperkenalkan beberapa karyanya kepada para pecinta jazz di luar Bali (maklumlah karena selama ini sebagian besar para pemain jazz kita lebih senang untuk berkumpul di ibu kota saja, apalagi kalau sudah terjun ke dalam industri musik). Meskipun melihat kondisi nyata, tidak sedikit para pemain musik jazz yang ada di berbagai daerah yang tidak kalah potensinya dengan yang berada di Jakarta. Sekalipun paling tidak, sebagai langkah awal yang cukup berani hal ini sudah diantisipasi oleh Koko dengan memproduksi album ini sendiri.

Di luar kondisi di atas, dalam album ini Koko menawarkan kepada publik pecinta jazz dengan sebuah style di mana barangkali tidak jauh-jauh akan mengingatkan kembali ke “masa keemasan” fusion ataupun jazz rock pada dekade 1980an terutama di Indonesia. ‘Assalamualaikum’ sebagai salam pembuka memberikan aksen yang sedikit eksotis dengan tampilnya dua orang musisi yang memainkan digeridoo dan tabla (sayang, dalam keseluruhan album ini mereka masih malu-malu untuk tampil lebih percaya diri atau memang hanya dalam komposisi itu saja). Dalam komposisi yang berjudul sama dengan judul album ini ‘Mainan’ terutama pada bagian improvisasi gitar solonya menunjukan bahwa Koko juga tidak asing dengan bebop licks-nya. Sebenarnya hal itu juga kadang-kadang muncul dalam beberapa komposisi lainnya namun dengan kemasan melodi dan beat yang lebih bisa diterima oleh banyak orang. Selain itu, Koko juga tidak terlepas pengaruh dari para gitaris musik rock yang khas. Dalam lapisan berikutnya, Sordhy dalam beberapa bagian tampil cukup baik. Dia cukup ketat dalam memainkan akor dan improvisasinya. Komposisi yang dengan apik digarap yaitu ‘Parikan’ lebih menjadi semacam tour de force bagi kelompok ini.

Barangkali yang menjadi harapan terutama bagi para pecinta musik jazz di Indonesia album ini dapat menumbuhkan kegairahan ataupun semangat yang baru kembali untuk terus berkarya baik bagi Koko sendiri maupun untuk para pemain musik jazz Indonesia yang lainnya dalam kondisi Indonesia yang sedang carut marut ini. Kalau dari keyakinan penulis sendiri, Koko sebenarnya bisa tampil lebih serius lagi dalam menggeluti musik jazz apalagi bisa ditambahkan sebagian unsur-unsur kekayaan tradisi seni musik nasional ataupun ide-ide yang menarik lainnya. Dalam album ‘Mainan’ ini seolah-olah Koko tampil masih belum maksimal. Meskipun masih ada sesuatu yang menjadi hambatan, yaitu dominasi pasar.(wartajazz.com)

Untuk mentranslate bahasa

Jazz at Santika

Dji Sam Soe Super Premium merupakan pihak yang memfokuskan diri berkontribusi mendukung dan memasyaratkan music jazz serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap jazz dengan harapan perkembangan musik jazz di tanah air akan semakin meningkat. Hal ini dapat dilihat dari pergelaran – pergelaran jazz yang diselenggarakan oleh Dji Sam Soe baik bertaraf internasional, nasional, regional maupun lokal.
Khusus untuk perkembangan music jazz di kota Malang sendiri,pada awalnya event music jazz berpindah – pindah dari suatu tempat lain dalam rangka mempopulerkan music jazz kepada masyarakat. Dan akhirnya pada tahun 2007 event jazz mulai dipusatkan pada suatu tempat yaitu di Hotel Santika Malang. Dan semua ini tidak lepas dari support Dji Sam Soe Super Premium. Adapun event – event jazz yang pernah diselenggarakan di Malang tahun 2007 seperti Jazz re – Generation, jazz Saturday night menghadirkan Bubi Chan, dan ather wonder of jazz. Selain itu digelar Jazz in The City I periode 29 Agustus – 22 September 2007, Jazz in The City II periode 31 Oktober – 8 Desember 2007. Dan periode 9 Pebruari-11 April 2008 digelar Tribute To Jack jazz 1988 – 2007. Berikut adalah musisi – musisi jazz dari kota Malang yang mengisi regular event jazz. Grup Farbig, terdiri
Vocal Wina, Guitar Musa, Bass pada Pink Pradhana, Ogut di Keyboard, Dedy pada drum. Berikutnya grup Traffic terdiri Vocal Gatut, Guitar Heru, Bass Helmy, Keyboard Yasser, Drum Hendra. Band Arafuru terdiri Vocal Brian Dan Yoyon, Guitar Heru, Bass pada Agus, Keyboard oleh Nongki, dan Drum pada Abenk. Sementra grup berisi anak-anak muda juga turut mengisi program tersebut yakni Batik, personilnya Vocal Tatag, guitar Alex, Bass di Irfan dan Drum diisi Husnul. Band lainnya yakni Dodi and friend, personilnya vocal di Wina, guitar pada Om Mbing, bass pada Nando, Keyboard oleh Dody dan Om Yanto memainkan drum.

Untuk mentranslate bahasa

Tentang Surabaya All Star

Kamis malam, 3 April 2008, komunitas jazz Malang yang tergabung dalam Malang Jazz Forum berkumpul di Hotel Santika untuk menikmati tembang-tembang jazz yang dibawakan Surabaya All Stars dalam Dji Sam Soe Super Premium Jazz in Malang. Surabaya All Stars memiliki pengalaman cukup banyak di arena jazz baik di Jakarta maupun Surabaya.
Mereka setiap Rabu tampil di Vista Sidewalk Cafe Surabaya. Pengalaman tampil mereka pada 25 Nopember 2007 mengisi di JakJazz. Lagu favorit mereka di JakJazz dan mendapat respon publik jazz yakni Jula-Juli.
Pada 7 Maret 2008 lalu, ketika tampil di Java Jazz, Surabaya All Star tampil dengan lagu baru mereka berjudul Surabayaku. Surabaya All Star terdiri Totok Afiat di Bass Guitar, Arranger, Tri Wijayanto pada Electric Guitar, Akustic Guitar dan Arranger. Berikutnya Mohammad pada Drums, Iwan di Piano, Synthetizer dan Arranger, FX Boy pada Alto Saxophone, Percussioons, Syaiful pada Tenor Saxophone, Soprano, Dodi pada Trumpet, Horn. Personil lainnya Sapto pada Trombone, Ruland pada Percussions, Corina di Female Singernya.

Untuk mentranslate bahasa

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.