Minggu, 13 April 2008, bertempat di markas G-Production Jl Permata Jingga Blok AA/27 Kota Malang, bersambung digelar pertemuan. Biasa, yang hadir diundang melalui pendekatan kultural dengan melakukan getok tular. Tentu, undangan gaya kultural itu diharapkan mampu membangun komitmen bersama dengan itikat baik, inisiatif moral untuk memasyarakatkan jazz di Malang Raya.

Layaknya sebuah acara kumpul-kumpul, sambutan awal dibuka tuan rumah, Brilli sebagai ‘komandannya’ G Production dengan gaya bahasa anak mudanya, jujur, tegas dan kongkrit. Maksud pertemuan itu digelar untuk mensyukuri nikmat Tuhan yang telah turut memberkahi suksesnya gelaran jazz yang telah mereka gelar sejak dekade Agustus 2007 sampai Jumat 11 April 2008 lalu dengan event Tribute Jak Jazz Super Premium Dji Sam Soe di Hotel Santika. Ucapan terima kasih lepas ikhlas dari bibirnya kepada semua musisi yang mengisi kegiatan regulernya, kepada Hotel Santika, kepada sponsorship, dan paling utama kepada penikmat jazz serta kalangan media. Banyak evaluasi yang muncul dari ‘kejujuran’ brili sebagai event organizer yang konsen pada musik jazz. Tapi ada satu kalimat yang membuat haru biru. Kalau tidak keliru brili menyampaikan jujur bahwa sebenarnya mengurusi jazz tidak banyak memberikan keuntungan. Tapi bukan berarti berhenti, tapi justru membuat G Production tertantang terus konsen ke jazz. Itu karena komitmen dan motivasi serta dukungan tanpa lelah semua yang terlibat mulai musisi, media maupun sponsorship.
“Jazz is the most democratic music. It’s the manifestation of democracy into music.”
– Irvin Mayfield
Semangat itu, kata brili, makin menjadi-jadi ketika semua dukungan itu terjalin dalam wadah Malang Jazz Forum yang terbentuk 20 Maret 2008 itu. Kejujuran brili tidak hanya terhenti disitu, dia juga merasakan bahwa jazz ini harus lebih memasyarakat. Tidak terkungkung dengan image bahwa jazz harus tampil di tempat dan suasana yang eklusif. Bahkan, brili mengungkap bahwa ada anggapan jazz tidak ‘laku dijual’, sampai suksesnya event jazz hanya diukur dari berapa sajian yang terbeli. Brili jujur, hal itu bukanlah menjadi jangkaunnya. Dia mengaku hanya memikirkan bagaimana mengemas dan menyiapkan sebuah program jazz dengan tetap memasarkan tapi dalam koridor posisinya sebagai EO.
Respon ‘kejujuran’ brilipun bersambut. Om Ping memberikan pemahaman, bahwa komitmen ‘berjuang’ di jalur jazz memang perlu ditekankan, bahwa mereka harus siap ‘tidak laku’. Tidak laku bukan berarti membuat putus asa untuk terus memasarkan jazz. Tapi dengan membangun sebuah komitmen dan motivasi bersama melalui sebuah forum, diharapkan ada kebersamaan untuk bersama-sama mengembangkan jazz. Karena itu, Om Ping ingin agar kesan senioritas, kesan ‘paling kemejezz‘ di kalangan musisi mulai dikurangi. Yang perlu dikedepankan, saling belajar, mengevaluasi demi kemajuan, termasuk ikhlas dan proporsional, utamanya bagi kalangan musisi dalam menempatkan porsi segmentnya band masing-masing.
Semakin variatif karakter band jazz, akan semakin beragam khasanah musik jazz di Kota Malang. Hal itu, kata om ping harus dihargai bukan justru melemahkan. Hal senada juga disampaikan Mas Aji dari Radio Citra Malang, perlu ada variasi program, agar pecinta jazz yang beranggapan bahwa jazz yang dihadirkan di tempat mewah hanya bisa diakses kalangan tertentu. Seperti digelar jazz jalanan atau jazz on the street minimal memiliki orientasi untuk lebih memasyarakatkan jazz. Tapi bukan berarti mengkerdilkan jazz yang digelar di tempat-tempat yang dianggap mewah oleh sebagian orang. Sebab jazz harus tetap ada di mana-mana. Selain itu, intensitas pertemuan juga perlu dilakukan dengan mengundang lintas pihak. Seperti sponshorship, pengelola hotel atau tempat event. Tujuanya adalah untuk meminimalir kondisi-kondisi di lapangan ketika muncul. Sebab, nikmatnya alunan jazz banyak hal yang mendukung. Mulai kualitas sound, kualitas atmosfir jazz, maupun perangkat lainnya. Tujuannya satu memberikan kepuasan kepada musisi yang sedang berkreasi, memuaskan penikmat yang sedang berapresiasi, termasuk merangsang dedikasi dari kalangan sponsor. Tujuannya semua satu membangun kualitas musik serta komunitasnya. Dari sekian obrolan yang muncul dalam pertemuan itu berharap agar intensitas pertemuan termasuk silaturahmi antar pecinta jazz juga anjangsana dengan para tokoh-tokoh jazz di Malang perlu ditingkatkan. Event-event kultural untuk mempererat jalinan sesering mungkin perlu digelar dengan mengendepankan tujuan yang sama agar jazz ini tumbuh kembang di Malang di semua kalangan. Jangan cepat puas ketika dicintai, jangan cepat bringas ketika dicaci. Tapi tetap rendah hati, intropeksi, selalu berlari untuk berkreasi. Amin.
Untuk mentranslate bahasa