Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk Mei, 2008

Category: Music
Genre: Jazz
Artist: BENNY LIKUMAHUA, BUBI CHEN, SYAHARANI

BENNY LIKUMAHUA, BUBI CHEN, SYAHARANI – WONDERFUL WORLD

Para musisi seperti Bubi Chen, Oele Pattiselano, Benny Likumahua adalah beberapa nama yang cukup berjasa dalam perkembangan musik jazz di Indonesia. Kiprah mereka di musik jazz sudah dikenal sejak era 70-an sampai sekarang.

Sangaji Musik yang dimotori oleh Sandy mencoba mengangkat kembali tokoh-tokoh jazz masa lalu untuk diabadikan dalam bentuk perangkat kaset dan compact disc (CD) yang diberi judul Wonderful World. “Tak ada kata lain selain mendedikasikan dan mengabadikan tokoh jazz Indonesia agar bisa menjadi koleksi sepanjang masa,” ujar Sandy yang bertindak sebagai eksekutif yang telah memproduksi sejumlah karya jazz Indonesia.

Terdapat 10 lagu yang berhasil dirangkum dalam Wonderful World Lagu-lagu tersebut sebagian besar merupakan hasil aransemen Benny Likumahua dan beberapa diantaranya oleh Bubi Chen. Pendukung musiknya adalah : Bubi Chen (Piano), Benny Likumahua (Trombone, Bass), Trisno (Tenor Saxophone), Oele Pattiselano (Guitar), Cendi Luntungan (Drums, Percussions) dan Syaharani (Vocalist).

Lagu-lagu yang dikemas dalam corak jazz standar tersebut memang bukan lagu asing di telinga para pecinta musik. Selain instrumental, beberapa diantaranya adalah Killing Me Softly, Crazy, What A Wonderful World dibawakan oleh Syaharani.

Killing Me Softly yang bercorak jazz kontemporer hasil aransemen Benny Likumahua dibawakan Syaharani lewat penjiwaan yang cukup baik. Hal itu tidak lepas dari pengalaman nyanyinya di panggung-panggung cafe. Terbentuknya karakter vokal melalui pengalaman serta lingkungan di tengah para musisi jazz, menjadi pilihan Benny dan Sandy sang produser untuk melibatkan Rani dalam Wonderful World.

“Cukup sulit mencari penyanyi jazz dalam kondisi sekarang, namun karena saya melihat Rani memiliki ‘swing feel’ yang baik, saya libatkan dia disini,” demikian penuturan Benny Likumahua. Tampak pula penjiwaan Rani pada lagu What A Wonderful World. Lagu yang pernah populer di masa lalu itu mengalir manis.

Berbicara musik jazz tidak lepas dari penggarapan instrumental. Seperti dalam lagu Unforgettable yang dimainkan secara apik oleh Bubi – Benny Cs. Kepiawaian mereka dalam memainkan lagu pilihan seperti ‘Moliendo Cafe’ dengan irama latin jazz, yang telah dikenal di Indonesia sebagai Kopi Dangdut itu mengundang decak kagum. Kita juga tidak boleh mengenyampingkan kehadiran Cendi Luntungan yang besar di lingkungan musisi senior. Lewat permainan drum serta perkusinya, ia cukup bisa berbicara banyak di kalangan musisi jazz. Seperti juga Trisno lewat Tenor Saxophone-nya.

Dengan menggunakan sistem live recording, sangat memungkinkan bagi mereka untuk melontarkan dialog-dialog lewat permainan musiknya. Dialog emosional inilah yang sangat dibutuhkan di musik jazz. Wonderful World memang bertujuan untuk mengabadikan musisi jazz lewat karya yang dibawakannya. Agar keberadaan mereka tetap tercermin dan dapat dinikmati oleh pecinta musik. Sebuah peluang bagus di tengah arus industri musik yang beraneka ragam seperti sekarang ini.Wonderful World memang pantas dimiliki sekaligus menjadi koleksi sepanjang masa.

Untuk mentranslate bahasa

Dalam wilayah art,musik khususnya pada wilayah seni pertunjukan dan dunia kemultimediaan,merupakan kesemestaan yang paling dinamis serta bisa berinteraksi dengan media manapun sehingga terkesan tidak ada sekat ( menembus batas). Hal ini bisa dilihat pada beberapa cuplikan video perform dari Singgih Sanjaya Orchestra dengan LKO Light Kronchong Orchestra,…

Mereka memainkan beberapa komposisi Jazz dengan digawangi dengan tebalan Musik Kroncong,Dari komposisi itu kita bisa melihat bahwa kedinamisan wilayah musik sangat luar biasa..!! dan juga komposisi JAZZ mainstrim menjadi ilustrasi Film Animasi (walaupun masih menggunakan karya JAZZ luar) lokal AREMA oleh komunitas Animasi MALANG ini sangat menarik…!!! karena pada media interaksi musik jazz ini bahwa jazz terterima secara interaktif dengan titik utamanya akan sangat efektif…

Dan temen-temen komunitas ANIMASI ini berharap ada banyak karya JAZZ lokal Malang untuk bisa berkolaborasi dengan temen-temen ANIMASI ini,anda bisa bayangkan jika dari beberapa potensi ini disatukan dan kemudian menjadi Character Building Bangsa dimana spirit ini untuk menjawab kisis Indentitas bangsa ini…..!!

silahkan download Video perform:

1.Logic And Inspiration >>>>Singgih Sanjaya

2.ALL OF ME >>>>>> SINGGIH SANJAYA

FILM ANIMASI KARYA KERA_KERA NGALAM

* Kendedes love AREMA (menyusul masih di convert)

Untuk mentranslate bahasa

A picture is worth a thousand words. Sebuah gambar setara dengan ribuan kata.

Terima kasih buat seluruh MJF-ers atas keikhlasannya untuk terus memasyarakatkan jazz di Malang. Terima kasih pula kepada dedikasi mereka yang menyempatkan pikirannya membuat dan mengusulkan logo buat Malang Jazz Forum. Menurut wikipedia, Logo merupakan suatu bentuk gambar atau sekedar sketsa dengan arti tertentu, dan mewakili suatu arti dari perusahaan, daerah, perkumpulan, produk, negara, dan hal-hal lainnya yang dianggap membutuhkan hal yang singkat dan mudah diingat sebagai ganti dari nama sebenarnya.

Karena itu, mari kita pikirkan bersama bagaimana agar logo ini cepat eksis dan dapat diterima semua ‘warga’ MJF. Karena itu butuh masukan-masukan, saran agar logo ini lebih memasyarakat. Sebab dengan logo itu, kita memiliki ‘tambahan’ amunisi untuk tetap semangat, bersatu padu, bergotong royong, bergandengan tangan untuk kemajuan jazz di Malang.

Sejarah Logo

Untuk menambah wawasan kita, sedikit kita kupas tentang filosofi sebuah logo. Ada istilah kuno di Tiongkok, bahwa Sebuah gambar setara dengan ribuan kata. Ada pula yang bilang pribahasa itu dicetuskan Napoleon Bonaparte di Prancis dengan ucapannya “Un bon croquis vaut mieux qu’un long discours” atau “A good sketch is better than a long speech.” Lebih kurang maknanya sama. Kedua tokoh itu memiliki kesamaan. Sama-sama hidup di jaman dulu dengan muara opini setara. Siapa pun yang mengucapkannya pertama kali tidaklah terlalu penting. Yang jelas adalah pribahasa itu mengalami penguatan dan pengukuhan makna di era informasi ini.

Gambar, simbol, logo, emblem, trademark dan sejenisnya mengalami metamorfosa yang sangat panjang. Corporate dan society identity ini telah dimulai sejak jaman Yunani pada abad XIII. Identitas ini muncul dipicu oleh eksistensi para traders dan merchants. Hal ini terjadi karena ada fakta pembeli tidak dapat melakukan repeat order atas produk berkualitas yang dibeli dari trader tertentu karena kesamaan produk generik. Karenanya, muncullah ide memberikan simbol atau logo agar produk dimaksud bisa lebih bergulir mengikuti deret ukur. Ratusan tahun kemudian, tindakan memperkenalkan identitas ini menjadi semakin kuat dilakukan oleh korporasi lintas sektoral. Tindakan ini bahkan menjadi concern utama corporate untuk semakin berjaya.

Kata Motivator

Menurut motivator asal Malang, Andriewongso , konklusinya dari logo dan simbol menjadi menu utama yang harus diberi atensi dan konsentrasi tinggi ketika mengkreasikan dan menggunakannya. Logo dan simbol yang tepat akan menciptakan komunikasi positif, konstruktif, empatik dan simpatik dengan shareholder dan stakeholder yang ada di lingkungan masyarakatnya. Sebaliknya, korporasi dan organisasi yang tidak memerhatikan unsur psiko-geografis dan kultur masyarakat akan mengalami proses layu sebelum berkembang. Karenanya, mari kita merenungkan filosofi logo atau simbol masing-masing. Semoga sesuai dengan nilai-nilai intrinsik di atas.

Ayo masukan MJF-ers sangat penting. Kemudian kita pikirkan bersama konsep launching logo kita….

Untuk mentranslate bahasa

www.arafuru-jazz.blogspot.com

profil

NEXT:>>>>KLIK DISINI : ARAFURU

Untuk mentranslate bahasa

gallery wallpaper

GALERY WALLPAPER REDY

WALLPAPER REDY COLLECTION

WALLPAPER MJF

silahkan bagi para JAZZY LOVERS MALANG yang ingin mencopy wallpaper ini untuk dibuat design kaos, kita share gratis …..so dengan design ini ,kan jadi beda atau juga bisa dibuat gambar dalam bentuk marchandise di gelas coffe mu….atau apa deh….

Untuk mentranslate bahasa

farbig is……

catatan f a r b i g

w h a t
farbig adalah sebuah kata yang dikutip dari bahasa jerman yang berarti “berwarna”. Dalam hal ini, kata farbig telah dipilih dan dijadikan nama oleh sebuah band yang didalamnya terdapat beberapa orang yang diberi talenta oleh Tuhan, yaitu kemampuan bermusik dan segala keberagamannya, sehingga tampak berwarna akan segala sesuatu yang ada di dalamnya.
Secara kebetulan sekumpulan orang yang menamakan dirinya farbig ini memiliki selera musik yang sama, yaitu musik JAZZ, dan yang akhirnya diputuskan menjadi satu warna musik pilihan bagi band ini untuk berkarya. Sebagai pelaku dan tentu saja sebagai penikmat musik JAZZ, secara otomatis farbig menjadi suatu wadah dan media untuk bereksplorasi dalam segi musikalitas, sesuai dengan kapasitas dan fungsi tiap-tiap personelnya.
Selain itu, menurut farbig, band ini juga merupakan suatu media berbagi pengetahuan dalam hal bermusik secara global dan berbagi dalam hal kehidupan bersosialisasi satu sama lain, sehingga tercipta suasana kekeluargaan antar personel, tanpa mengurangi rasa profesionalitas sebagai sebuah grup musik.

w h o
usia, warna kulit, pekerjaan dan segala perbedaan yang ada menjadi warna dalam farbig.
• Rinto Dwi Istiyanto, atau akrab dipanggil dengan nama ogut, adalah keyboardist farbig yang usianya termuda di antara personel farbig lainnya. Lahir di malang 18 april 1983, mulai menyalurkan hobi bermusik di usia belia. Dari beberapa instrument yang mampu dimainkannya, keyboard-lah yang menjadi pilihan terakhir untuk didalami saat usia remaja. Hingga saat ini, ada beberapa nama musisi JAZZ yang memberikan pengaruh dalam permainan keyboardist farbig ini, sebut saja musisi JAZZ ternama Bob James dan Herbie Hancock, selain itu ogut juga sempat menambah pengetahuan bermain keyboard pada beberapa musisi Malang, antara lain yasser-traffic, estu-adlib dan yang pasti selalu terus berproses untuk berkembang bersama farbig.
• Ratna Winahyu Utami, seorang penyanyi yang memiliki pengalaman bermusik cukup lama. Mulai memberanikan diri untuk tampil menyanyi di depan publik dimulai sejak bangku taman kanak-kanak. Berbagai metode dalam berlatih vokal telah ditempuhnya, bahkan pertemuan dengan beberapa orang yang secara tidak sengaja ditemuinnya, Wina mendapatkan berbagai masukan, saran dan kritik, yang akhirnya juga menjadi salah satu referensi dalam mengasah kemampuan bernyanyinya. Bertemu dengan orang-orang yang tepat di dalam farbig membuat wina ingin terus belajar untuk mengerti, paham, dan mendalami makna sebuah lagu sebelum menyanyikannya. Tidak sekedar menyanyikan lagu tanpa mengetahui pesan apa yang ingin disampaikan oleh sang pencipta lagu.

• Musa, seseorang yang sangat berkarakter, bukan hanya dalam hal bermusik tetapi juga dalam kehidupan sosialnya. Musa memiliki warna yang khas dalam memainkan jemarinya diatas fret gitar,itu dikarenakan dia telah memulai belajar gitar sejak kelas 3 SD. Di usia 17 tahun, pria yang kini menjadi Ayah dari satu orang putra ini mulai memainkan dan mendalami musik klasik. Tetapi, musik JAZZ bukanlah suatu hal yang baru bagi gitaris farbig ini, Papa tercintanya mengenalkan dan memperdengarkan musik JAZZ sejak kecil. Terutama setelah dia menambah ilmu dari Bapak Salim Almarhum yang notabene salah seorang Maestro musik asal Malang, akhirnya Musa mendapatkan berbagai pengetahuan tentang dunia musik terutama JAZZ, dan hingga detik ini menjadi pedoman Musa dalam menciptakan sebuah karya.
• Dedy Irawan, adalah seorang laki-laki yang bertubuh mungil dan imut tetapi berubah menjadi pendekar ketika menggebukkan stick pada drum. Berawal dari kesukaannya pada musik rock, terus melangkah ke dunia TOP40/RnB, sampailah berlabuh di dunia musik jazz. Pertamakali perform bersama farbig di salah satu hotel di Malang di bulan Februari 2008. Gayung bersambut, Dedy yang mengaku rindu sekali memainkan musik jazz merasa senang mendapat kesempatan untuk bisa bersama farbig.
• Pink Pradhana, “om pink” adalah panggilan akrab yang sering ditujukan padanya sekarang ini. Sosok yang matang, dalam segala sisi hidupnya ini, memutuskan untuk bermusik kembali ketika bertemu dengan farbig di tahun 2006, setelah rehat dari dunia panggung selama 6 tahun. Kerinduan untuk mengekspresikan diri dalam bermain musik membuat “om pink” harus bekerja keras untuk membagi waktu pekerjaan dan hobi juga merefresh pengalaman yang pernah didapatkannya di masa lalu.

farbig di atas panggung terdiri dari 5 orang pelaku musik, tetapi ada 2 orang lagi yang tidak terlihat di atas panggung tetapi mereka mempunyai fungsi penting dalam kelancaran setiap show farbig
• Agung Dien Farid, lahir pada tanggal 12 oktober 1984, mempunyai pengalaman dalam dunia entertainment di Jakarta. Keinginannya untuk membuat farbig bisa mengharumkan nama Malang, memacu kami semua untuk terus berkarya. Bermusik yang ter-manage dengan baik semoga bisa menghasilkan karya yang baik pula
• Wawan, semahal apapun sebuah alat musik dengan merk yang terkenal tidak ada artinya tanpa keterampilan dan keahlian sound engineer untuk menjaga keindahan dan keseimbangan suara yang dihasilkan . “Mbah Wawan” biasa kami memanggilnya, bergabung dengan farbig di bulan februari 2008.

w h y
kata farbig kami pilih sebagai wakil untuk mengapresiasi warna bermusik dari setiap personelnya. Farbig diambil dari kamus bahasa jerman yang berarti berwarna. Kami punya keinginan yang tulus untuk memberi warna dalam kehidupan bermusik di kota Malang tercinta, Jawa timur dan kalau boleh Negara Indonesia.
Mengapa jazz? Pada dasarnya musik adalah sebuah pilihan hidup yang sangat pribadi bagi setiap manusia, layaknya beragama, dalam kehidupan bermusik pun seharusnya kita saling menghargai dan bertoleransi. Jazz adalah pilihan untuk farbig dalam berkarya, karena jazz adalah musik yang berfilosofi, ekspresif dan sangat supel dengan jenis musik apapun yang ada di dunia ini.

w h e r e
New Orleans, Chicago dan beberapa kota di daratan Amerika adalah kota yang bersejarah bagi musik jazz. Bahkan jazz sekarang sudah menyebar dan tinggal di hati para penduduk negara besar atau kecil, kota besar atau kecil di seluruh dunia. Begitu juga di kota Malang yang kecil yang terletak jutaan mil dari negara asal jazz lahir. Farbig yang terdiri dari beberapa arema ini mendengar, menikmati dan memainkan musik jazz dengan segala kemampuan dan dengan segala kerendahan hati dan rasa hormat kepada para musisi jazz dunia, musisi jazz Indonesia dan juga musisi jazz yang berada di kota Malang tercinta.

w h e n
sebuah kelahiran biasanya dirayakan setiap tahunnya sebagai perayaan ulang tahun dan sebagai ucapan syukur bertambahnya umur. Farbig tidak memiliki tanggal yang special yang dijadikan symbol kelahiran kelompok ini. Tapi kami masih ingat performance kami pertama kali yaitu di hari jumat tanggal 28 juli 2006 di Makan Time – Surabaya. Dan kami merayakan setiap pertambahan usia kami di setiap show yang kami dedikasikan untuk setiap orang yang mencintai musik sebagai ciptaaan Tuhan.

h o w
meraih dan merawat adalah dua kegiatan yang berbeda tapi saling bergantung. Mendapatkan kepercayaan dari para penikmat seni, kritikus, musisi, event organizer, outlet dan berbagai pihak dalam dunia hiburan bermusik di Malang khususnya, adalah sebuah proses yang panjang untuk farbig. Dan proses meraih itu semua terus kami lakukan sampai detik ini dengan cara farbig dalam berkesenian. Tetapi step berikutnya adalah merawat kepercayaan yang amat mahal dan tak ternilai yang telah diberikan kepada farbig. Bermusik bukan hanya memainkan chord, nada, dan mempertontonkan skill di hadapan banyak orang, tetapi bermusik untuk farbig adalah suatu etika kehidupan bersosialisasi sehingga hubungan antara semua pihak yang terkait di dalamnya menjadi indah dan nyaman.

f a r b i g family

Om George Laisina memberikan nasehat pada farbig, beliau mengatakan bahwa kesuksesan adalah hasil dari sebuah team work. Nasehat ini yang selalu kami ingat dalam kehidupan bermusik kami. Berikut adalah teman-teman yang menjadi keluarga bagi farbig, yang secara langsung maupun tidak, ikut memberi warna pada farbig
• Gedy (Drum), menjadi warna buat farbig dengan segala kemampuan memainkan drum yang dimiliki. Gedy juga menjadi bagian kelahiran, perjuangan dan keluarga farbig. Terimakasih teman untuk semua yang sudah terjadi, dan mari kita terus berkarya di tempat kita yang berbeda.
• Dedy (Bass), laki-laki pendiam di segala suasana ini mendadak jadi lincah kalau sudah memeluk bass-nya dan duduk berhadapan dengan buku partitur saktinya. Sosok yang flat tapi berkarakter ini juga menjadi bagian dari warna farbig sampai kapanpun. Thanx dedy untuk betotan bass nya.
• Edo (Bass), Edo pemain bass muda kota Malang yang sudah melalangbuana ini, juga teman baik farbig. Pertamakali kita contact untuk jadi additional player, beliaunya sempat kaget tapi menyambut dengan segala ekspresinya gembiranya. Terimakasih Edo untuk waktu dan tenaga yang sudah diberikan, next time bantuin lagi ya kalau om pink sedang berhalangan.
• Arafuru Band, farbig mengenal Arafuru dengan nuansa jazzy tunes nya. Sukses untuk temen-temen Arafuru, mari kita sama-sama membuat jazz boleh tinggal dan hidup di Malang
• Abigail Rhythm, walaupun bandnya baru terbentuk di awal tahun 2008, tetapi kedekatan farbig dengan tiap personelnya sudah berjalan jauh sebelumnya. Andika, Beni dan Gedi membentuk trio yang keren dan juga ingin sama-sama berjuang menghidupkan suasana jazz di Malang. Keep movin’ guys!
• Tokek n friends, namanya saja sudah unik dan cocok sekali melukiskan keunikan kumpulan orang muda ini. Memilih jalur indie untuk berkarya, membuat tokek n friends segera bisa diterima oleh penikmat musik jazz di malang. Berciri khas, muda dan segar adalah pesan yang diterima farbig ketika mendengar dan melihat performance tokek and friends. Kebetulan salah satu “friend”-nya tokek yang ikut ambil bagian adalah juga keyboardist farbig, jadi kita pasti akan terus saling share.
• Batik Band, perkenalan farbig dengan batik band diawali di event Djisamsoe Tribute to Jakjazz (February-April 2008), sekumpulan orang muda yang memilih membawakan jazz era 2000an ini terdiri dari mahasiswa dan alumni Universitas Brawijaya. Batik juga telah mewarnai jazz di Malang. Terus berkarya untuk teman-teman Batik
• Traffic Band, sebuah band jazz Malang yang terdiri dari Helmy (bass), Heru (gitar), Yasser (keyboard), Hendra (drum), Gatut (vocal) merupakan teman sharing dalam bermusik. Keep goin’ with Jazz Guys!
• Band yang akan segera bermunculan di Malang, Anda yang membaca catatan kecil farbig ini dan punya keinginan atau sudah punya band, jangan pernah malu untuk membuka diri dan keluar dari sarang. Farbig dengan senang hati dan bangga sekali jika bisa bersama-sama membuat jazz hidup dan berkembang di Malang.

perjalanan f a r b i g

• regular Bunga Bali – Malang ( 2006 )
• regular Makan Time – Surabaya ( 2006-2007 )
• regular Vivace – Malang ( 2007 )
• regular Waroong Cinemax ( April 2008 – masih berjalan )
• event Djisamsoe Jazz Regeneration 3 ( Desember 2006)
• event Djisamsoe Jazz in the City 2 ( November 2007)
• event Djisamsoe The Wonder of Jazz ( New Years Eve, 31 Desember 2007 )
• event Djisamsoe Tribute to Jakjazz ( February-April 2008 )
• event Djisamsoe Friday is Jazz day ( Mei-Juli 2008 )
• event Djisamsoe Jazz in Malang with Farbig and Surabaya All Star (3 April 2008 )
• event Kharisma XIII Universitas Brawijaya ( 28 Februari 2008 )
• event JazziLAcious FIS Universitas Brawijaya ( 24 Mei 2008 )

Untuk mentranslate bahasa

24 Mei 2008, mungkin hari yang tidak terlupakan bagi pecinta jazz di Malang. Sehari, dua event apik digelar. Satu di Unibraw, satu lagi di Hotel Santika. Tampilan ParkDrive dalam tajuk Jazz in The City, Dji Sam Soe Super Premium dan GProduction di Ballroom Hotel Santika tak membuat pecinta jazz di kota dingin ini anteng terdiam. Justru yang tampak, hentakan, goyangan, teriakan, improvisasi sampai hati, bahkan eksotik.
Itulah moment jazz yang dikemas apik, lintas generasi dan ekspresif. Ratusan pecinta jazz penuh menyesaki kursi di Ballroom Hotel Santika. Mengawali moment Jazz in The City, tampil Arafuru sebagai band pembuka. Sejumlah tembang meluncur dari band yang juga aktif mengisi program reguler Friday is Jazz Day di tempat yang sama.
Tampilan grup yang dipandegani vokal pada Brian dan Yoyon, Guitar pada Heru, Bass dipegang Agus, Keyboard oleh Nongki, dan Drum pada Abenk. Pada malam itu, Arafuru tampil menakjubkan. Tepuk tangan panjang selalu menyelingi diakhir tembang mereka.
Pas pukul 21.00, Arafuru mengakhiri kerja keras mereka. Pecinta jazzpun mulai terusik dari kursinya. Beberapa mereka memaksa memindah duduknya yang sebelumnya dibelakang untuk maju dibarisan depan. Giliran ParkDrive yang menggebrak Malang malam itu. Tiga personil ParkDrive masing-masing Olive pada vokal, Juno Adhi Suwandhono pegang kendali sampling syntezier dan Rayendra pada Drum serta diperkuat Ali Akbar di keyboard dan Adhika Prabu Aprianto pada bass , tampil energik di awal lagu pembuka mereka.
Olive yang tampil dengan besutan baju putih hitam malam itu tampil eksotik, dengan sedikit goyangannya dan gaya vokal centilnya membuat pecinta jazz tak henti-hentinya turut bergoyang. Olive mengawali dengan memperkenalkan profil Park Drive. “Band ini terbentuk tahun 2002, saya baru masuk di band ini tahun 2006. Dan malam ini, baru pertama kami tampil di Malang, dan sambutannya luar biasa, surprise buat kami. dan kami siap diundang lagi ke Malang,” katanya disambut tepuk tangan panjang.
Tembang-tembang di album Repackage mulai didendangkan para alumnus Berklee College of Music ini. Beberapa lagu mengalir energik seperti Parkdrive Remix, Diatas Awan, Sekedar Cerita. Suasana makin semarak, ketika Olive berdendang bareng dengan vokalis Farbig, Wina mendendangkan tembang Biarkan. Kebetulan, pengakuan Wina, Farbig acapkali menyanyikan lagu itu dalam setiap tampilannya. Duet adu vokal keduanya makin menghangatkan suasana, tak henti-hentinya sambutan datang dari para pecinta jazz.
Apalagi, sambutan makin luar biasa, ketika Olive memperkenalkan kepada pecinta jazz lainnya tentang berdirinya Malang Jazz Forum. Kebetulan, puluhan MJF-ers yang mengenakan baju ‘barunya’ bertuliskan Ini Kaos Bukan Jazz semakin menambah semarak. Olive mengajak para pecinta jazz beridiri dan mendekat bibir panggung untuk ‘berpesta’ bersama. Olive begitu ekspresif mengeksploitasi ‘kekuatan’ vokalnya. Para MJF-ers dan pecinta jazz lainya larut dalam pesta malam itu. Sampai diakhir penutup penampilan ParkDrive sekitar pukul 23.00, seakan mereka tak ingin berpisah, kendati Olive, Juno dan Rayendra mengahiri pestanya. Disisi panggung, mereka berusaha mendekatinya, selain untuk berfoto bareng, juga bercengkerama singkat.
Tutuko, Area Manager Sampoerna Malang mengaku atmosfir jazz di Malang luar biasa. Tutuko malam itu tampak sumringah, karena upaya pihaknya sebagai sponsor untuk turut memasyarakatkan jazz di Malang mendapat sambutan luar biasa dari pecinta jazz di Malang. Karena itu, pihaknya akan terus turut aktif menggelar kegiatan serupa. Tutuko juga mengucapkan banyak terima kasih kepada mereka yang aktif di Malang Jazz Forum atas dukungan yang diberikan termasuk semua pihak yang membantu terselenggaranya event itu.

Untuk mentranslate bahasa

JazzyLAcious Miniatur Jazz People

Gelaran JazzyLacious benar-benar luar biasa. Kegiatan yang digelar mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Komunikasi Massa Unibraw tahun 2005 ini kendati digelar dicuaca panas terik di samping utara Samantha Krida Unibraw, tapi tidak melemahkan animo pecinta Jazz untukterus menikmati alunan musik jazz yang dibawakan paramuda Malang ini.

Bahkan tepat didepan panggung utama, berdiri tenda Malang Jazz Forum (MJF). Disana para MJf-ersbisa membeli soeuvenir MJF seperti kaos yang cukup unik bertuliskan Ini Kaos Bukan Jazz, cukup menggelitik tulisan itu. Belum lagi, para pecinta jazz yang belum mendaftar sebagai anggota MJF, bisa daftar langsung disana. Masih dari tenda MJF, bisa nonton beberapa klip musisi jazz domestik dan mancanegara.

Di tenda MJF juga hadir Jazz Mading, berisi beberapa profil musisi jazz malang, sekaligus disana kita berdiskusi tentang perkembangan jazz malang. Acara makin semarak, hadir para juri dari musisi dan pengamat jazz malang seperti Om Ping dari Farbig, Om Helmi dari Traffic dan DJ Oko Music Director Citra Malang 87.9 FM. Para juri memberikan apresiasi kepada para musisi muda yang tampil dalam Campus Jazz Competition.

Aji Tim Humas MJF mengatakan bahwa kegiatan ini cukup luar biasa. Utamanya dalam memberikan apresiasi sekaligus memperkenalkan jazz kepada semua kalangan. “Selama ini jazz dianggap milik kelompok elit. Padahal tidak, sebenarnya jazz ini musik universal, dimana semua yang terlibat mampu melakukan improvisasi tapi tetap enak didengar,”katanya.

Selain itu, kata Aji, berharap agar jazz makin bisa diterima dengan semua kalangan, ini tentunya untuk menciptakan sebuah komunitas besar untuk membentuk Jazz People. Gelaran JazzyLAcious ini merupakan awal memupuk rasa dan karya itu, bahkan bisa disebut sebagai miniatur Jazz People, dimana aktifitas banyak digelar disana dengan tetap memberikan dan menciptakan sebuah atmosfir jazz yang luar biasa. Ada yang makan sambil nikmati alunan jazz meski siang terik, ada yang asyik romantis tapi tetap konsen dengan tembang Selalu Denganmu milik Tompi yang dinyanyikan sebuah band kampus peserta kompetisi. Sangjuripun juga terlibat diskusi untuk siap memberikan masukan demi kemajuan peserta. Semoga miniatur Jazz People ini bisa tergelar di sudut-sudut Kota Malang.

Untuk mentranslate bahasa

Menyambut 100 Tahun Kebangkitan Nasional, Radio Citra Malang 87.9 FM sebagai media patner Malang Jazz Forum bekerja sama dengan PMI Kabupaten Malang bakal menggelar kegiatan sosial. Kegiatan itu untuk mengajak semua kalangan masyarakat, tokoh masyarakat, seniman, musisi dan siapapun yang memiliki kepedulian yang besar terhadap sesama, untuk mennggalang donor darah.

Kegiatan donor darah ini butuh 100 lebih relawan untuk membantu sesama kita mendapatkan bantuan darah. Tetesan darah itu tidak ada artinya dengan apa yang telah diperjuangkan para pejuang-pejuang kita merebut Indonesia. Tapi, tetesan darah itu menjadi dedikasi dan semangat kita untuk membangun. Demikian pula dengan wadah Malang Jazz Forum ini, sebagai wujud dedikasi semua pihak kepada kembang tumbuhnya jazz di Malang. Karena itu, kami mengajak para MJF-ers untuk turut andil dalam kegiatan murni sosial ini. Kegiatan bakal digelar pada Selasa 20 Mei 2008 pukul 07.00-selesai di Halaman Depan Radio Citra Malang 87.9 FM. lebih lengkap informasinya hubungi Fitri dan Ardiansyah di 0341-358866 dan 358222. Daftarkan diri anda untuk turut bercermin dengan peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional.

Untuk mentranslate bahasa

24 Mei, Parkdrive ‘goyang’ Malang

Mei ini benar-benar Malang digeber ‘goyangan’ jazz. Selain program reguler Djisamsoe Super Premium Friday and Jazz Day di Hotel Santika dan Ezy Cozy Jazzy di Cinemax Cafe, MJF-ers akan digoyang Parkdrive, grup band jazz dimana personilnya jebolan sekolah musik mancanegara. Kelompok musik yang awalnya digawangi Rayendra Sunito, Juno Adhi, dan Mikuni Gani ini sebetulnya tak ingin mengotakkan diri dalam genre sempit, jazz.  Terakhir Mikuni Gani, sang vokalis diganti dengan Olive. Namun, ketika musik mereka hadir secara tak sadar ketika didengarkan sungguh jazzy. Apalagi bagi para MJF-ers yang suka musik beraroma acid jazz-nu jazz jangan ketinggalan Parkdrive akan hadir di Hotel Santika pada Sabtu 24 Mei 2008. Event ini didukung sepenuhnya Djisamsoe Super Premium dan Malang Jazz Forum.

Sekelumit Tentang Parkdrive Park drive dibentuk pada pertengahan tahun 2002 di Boston, ketika Rayendra Sunito dan Juno Adhi, dua musisi yang tengah menimba ilmu di Berklee College of Music bertemu Mikuni Gani, sang vokalis. Berawal dari visi yang sama untuk berkarya dengan jujur, dan membuat sesuatu yang baru untuk industri musik Indonesia, mereka pun berkolaborasi.
Selama kurang lebih dua tahun menggarap materi, visi mereka pun menyatu dan berkembang dengan sendirinya. Dengan berbagai aliran musik berbeda yang mereka suka dan pelajari, seperti Juno yang lebih ke nu-jazz dengan inspirasi dari musisi-musisi seperti Incognito dan Kyoto Jazz massive, Rayendra dengan pengaruh jazz, pop dan funknya seperti Sting, Tower of Power dan D’sound, dan Mikuni yang menyukai warna-warna suara seperti Sade dan Swingout Sisters, jadilah perpaduan musik yang memiliki nuansa Jazz, Soul, Funk, RnB dan Brazilian. Variasi inilah yang akan didengar di album pertama mereka.
Pada tahun 2006 ini sang vokalis Mikuni Gani, memilih mengundurkan diri dan digantikan oleh Olivia La Tuputty (Olive), wanita kelahiran Palembang 25 tahun lalu ini sudah dikenal lama oleh Juno Adhi dan Rayendra, mereka cukup sering nge-jam bareng di JAMZ sebelum akhirnya Olive memutuskan bergabung dengan park drive. 
Kombinasi antara kesederhanaan lagu dan lirik yang bertemakan cinta dan paduan melodi yang touchy, mengukuhkan eksistensi mereka lewat album pertama mereka, park drive, dimana mereka berkolaborasi dengan musis-musisi lokal maupun manca negara seperti Adrian M, Yu Akiyoshi dan JT Donaldson.((sebagian dari djisamsoe.com)

Untuk mentranslate bahasa

Tulisan yang Lebih Tua »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.