Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Arsip untuk ‘Profil Musisi’ Kategori

Abigail Rhythm adalah band jazz yang tidak memiliki aliran tertentu, karena band ini menganggap musik adalah tempat untuk berekspresi, sehingga kebebasan bereksperimen yang sesuai dengan gaya dan karakter masing-masing personel lebih diutamakan. Why ‘Abigail Rhythm’? Abigail mewakili sosok wanita yang memiliki sisi keindahan, keanggunan dan keunikan, yang merupakan sumber inspirasi untuk membentuk suatu harmony dan rhythm yang unik. Who Are They? Band yang lahir di Malang pada bulan Maret 2008 ini terdiri dari tiga orang personel, yaitu: Gedy (Drum, Percussion) Drummer dengan nama lengkap Gideon Paul yang lahir pada 22 Januari 1983 ini mulai bermusik pada tahun 2000. Drummer yang pada awalnya memainkan musik alternative ini mulai mencoba bermain di jalur jazz pada tahun 2005 bersama ‘Farbig’. Kemudian pada bulan Maret 2008 Gedy membentuk ‘Abigail Rhythm’. Andika (Piano, Synthesizer) Pianist yang sangat mengidolakan Herbie, Chic dan Hiromi ini lahir pada tanggal 10 Oktober 1983. Andika mengenal jazz dari orang tuanya yang juga pecinta musik jazz. Pianist dengan nama lengkap Andhika Riptayudo Nugroho yang sempat menyelesaikan sekolah musik di Jogja ini justru baru memulai karier dalam musik jazz pada bulan Maret 2008 saat bergabung dalam ‘Abigail Rhythm’. Benny (Bass) Bassist yang lahir pada tanggal 24 April 1984 ini sangat menggemari black music (Soul, Funk, R&B, Jazz). Jaco Pastorius, M2, Nathan East dan Abe laboriel sangat meng-influence gaya bermainnya. Pada awalnya, bassist yang senang bermain dengan sound FX ini berkecimpung di dunia musik Hip Hop / R&B, hingga akhirnya memutuskan untuk terjun dalam dunia musik jazz bersama ‘Abigail Rhythm’.

Abigail Rhythm terus menerus mencari sesuatu yang baru dalam bentuk pembawaan dan ciri khas bermusik jazz, bahkan terkadang melangkahi beberapa aturan klasik. Dengan demikian Abigail Rhythm lebih mementingkan kebebasan untuk menjadi diri sendiri dimanapun dan kapanpun band ini bermain musik.

The Reason Keinginan untuk bebas berekpresi dan mendalami musik jazz membuat Abigail Rhythm terus menerus mencari sesuatu yang baru dalam bentuk pembawaan dan ciri khas bermusik jazz, bahkan terkadang melangkahi beberapa aturan klasik. Dengan demikian Abigail Rhythm lebih mementingkan kebebasan untuk menjadi diri sendiri dimanapun dan kapanpun band ini bermain musik. Selain adanya keinginan untuk berekspresi, Abigail Rhythm juga ingin memperkenalkan kebudayaan bangsa yang merupakan ciri khas yang dibanggakan di Indonesia, bahkan sampai di dunia internasional. Ini yang mendorong Abigail Rhythm untuk selalu melibatkan konsep-konsep musik Indonesia ke dalam musik jazznya yang menjadikan nuansa baru dalam aransemennya. (abigail_rhythm@yahoo.com)

Untuk mentranslate bahasa

www.arafuru-jazz.blogspot.com

profil

NEXT:>>>>KLIK DISINI : ARAFURU

Untuk mentranslate bahasa

farbig is……

catatan f a r b i g

w h a t
farbig adalah sebuah kata yang dikutip dari bahasa jerman yang berarti “berwarna”. Dalam hal ini, kata farbig telah dipilih dan dijadikan nama oleh sebuah band yang didalamnya terdapat beberapa orang yang diberi talenta oleh Tuhan, yaitu kemampuan bermusik dan segala keberagamannya, sehingga tampak berwarna akan segala sesuatu yang ada di dalamnya.
Secara kebetulan sekumpulan orang yang menamakan dirinya farbig ini memiliki selera musik yang sama, yaitu musik JAZZ, dan yang akhirnya diputuskan menjadi satu warna musik pilihan bagi band ini untuk berkarya. Sebagai pelaku dan tentu saja sebagai penikmat musik JAZZ, secara otomatis farbig menjadi suatu wadah dan media untuk bereksplorasi dalam segi musikalitas, sesuai dengan kapasitas dan fungsi tiap-tiap personelnya.
Selain itu, menurut farbig, band ini juga merupakan suatu media berbagi pengetahuan dalam hal bermusik secara global dan berbagi dalam hal kehidupan bersosialisasi satu sama lain, sehingga tercipta suasana kekeluargaan antar personel, tanpa mengurangi rasa profesionalitas sebagai sebuah grup musik.

w h o
usia, warna kulit, pekerjaan dan segala perbedaan yang ada menjadi warna dalam farbig.
• Rinto Dwi Istiyanto, atau akrab dipanggil dengan nama ogut, adalah keyboardist farbig yang usianya termuda di antara personel farbig lainnya. Lahir di malang 18 april 1983, mulai menyalurkan hobi bermusik di usia belia. Dari beberapa instrument yang mampu dimainkannya, keyboard-lah yang menjadi pilihan terakhir untuk didalami saat usia remaja. Hingga saat ini, ada beberapa nama musisi JAZZ yang memberikan pengaruh dalam permainan keyboardist farbig ini, sebut saja musisi JAZZ ternama Bob James dan Herbie Hancock, selain itu ogut juga sempat menambah pengetahuan bermain keyboard pada beberapa musisi Malang, antara lain yasser-traffic, estu-adlib dan yang pasti selalu terus berproses untuk berkembang bersama farbig.
• Ratna Winahyu Utami, seorang penyanyi yang memiliki pengalaman bermusik cukup lama. Mulai memberanikan diri untuk tampil menyanyi di depan publik dimulai sejak bangku taman kanak-kanak. Berbagai metode dalam berlatih vokal telah ditempuhnya, bahkan pertemuan dengan beberapa orang yang secara tidak sengaja ditemuinnya, Wina mendapatkan berbagai masukan, saran dan kritik, yang akhirnya juga menjadi salah satu referensi dalam mengasah kemampuan bernyanyinya. Bertemu dengan orang-orang yang tepat di dalam farbig membuat wina ingin terus belajar untuk mengerti, paham, dan mendalami makna sebuah lagu sebelum menyanyikannya. Tidak sekedar menyanyikan lagu tanpa mengetahui pesan apa yang ingin disampaikan oleh sang pencipta lagu.

• Musa, seseorang yang sangat berkarakter, bukan hanya dalam hal bermusik tetapi juga dalam kehidupan sosialnya. Musa memiliki warna yang khas dalam memainkan jemarinya diatas fret gitar,itu dikarenakan dia telah memulai belajar gitar sejak kelas 3 SD. Di usia 17 tahun, pria yang kini menjadi Ayah dari satu orang putra ini mulai memainkan dan mendalami musik klasik. Tetapi, musik JAZZ bukanlah suatu hal yang baru bagi gitaris farbig ini, Papa tercintanya mengenalkan dan memperdengarkan musik JAZZ sejak kecil. Terutama setelah dia menambah ilmu dari Bapak Salim Almarhum yang notabene salah seorang Maestro musik asal Malang, akhirnya Musa mendapatkan berbagai pengetahuan tentang dunia musik terutama JAZZ, dan hingga detik ini menjadi pedoman Musa dalam menciptakan sebuah karya.
• Dedy Irawan, adalah seorang laki-laki yang bertubuh mungil dan imut tetapi berubah menjadi pendekar ketika menggebukkan stick pada drum. Berawal dari kesukaannya pada musik rock, terus melangkah ke dunia TOP40/RnB, sampailah berlabuh di dunia musik jazz. Pertamakali perform bersama farbig di salah satu hotel di Malang di bulan Februari 2008. Gayung bersambut, Dedy yang mengaku rindu sekali memainkan musik jazz merasa senang mendapat kesempatan untuk bisa bersama farbig.
• Pink Pradhana, “om pink” adalah panggilan akrab yang sering ditujukan padanya sekarang ini. Sosok yang matang, dalam segala sisi hidupnya ini, memutuskan untuk bermusik kembali ketika bertemu dengan farbig di tahun 2006, setelah rehat dari dunia panggung selama 6 tahun. Kerinduan untuk mengekspresikan diri dalam bermain musik membuat “om pink” harus bekerja keras untuk membagi waktu pekerjaan dan hobi juga merefresh pengalaman yang pernah didapatkannya di masa lalu.

farbig di atas panggung terdiri dari 5 orang pelaku musik, tetapi ada 2 orang lagi yang tidak terlihat di atas panggung tetapi mereka mempunyai fungsi penting dalam kelancaran setiap show farbig
• Agung Dien Farid, lahir pada tanggal 12 oktober 1984, mempunyai pengalaman dalam dunia entertainment di Jakarta. Keinginannya untuk membuat farbig bisa mengharumkan nama Malang, memacu kami semua untuk terus berkarya. Bermusik yang ter-manage dengan baik semoga bisa menghasilkan karya yang baik pula
• Wawan, semahal apapun sebuah alat musik dengan merk yang terkenal tidak ada artinya tanpa keterampilan dan keahlian sound engineer untuk menjaga keindahan dan keseimbangan suara yang dihasilkan . “Mbah Wawan” biasa kami memanggilnya, bergabung dengan farbig di bulan februari 2008.

w h y
kata farbig kami pilih sebagai wakil untuk mengapresiasi warna bermusik dari setiap personelnya. Farbig diambil dari kamus bahasa jerman yang berarti berwarna. Kami punya keinginan yang tulus untuk memberi warna dalam kehidupan bermusik di kota Malang tercinta, Jawa timur dan kalau boleh Negara Indonesia.
Mengapa jazz? Pada dasarnya musik adalah sebuah pilihan hidup yang sangat pribadi bagi setiap manusia, layaknya beragama, dalam kehidupan bermusik pun seharusnya kita saling menghargai dan bertoleransi. Jazz adalah pilihan untuk farbig dalam berkarya, karena jazz adalah musik yang berfilosofi, ekspresif dan sangat supel dengan jenis musik apapun yang ada di dunia ini.

w h e r e
New Orleans, Chicago dan beberapa kota di daratan Amerika adalah kota yang bersejarah bagi musik jazz. Bahkan jazz sekarang sudah menyebar dan tinggal di hati para penduduk negara besar atau kecil, kota besar atau kecil di seluruh dunia. Begitu juga di kota Malang yang kecil yang terletak jutaan mil dari negara asal jazz lahir. Farbig yang terdiri dari beberapa arema ini mendengar, menikmati dan memainkan musik jazz dengan segala kemampuan dan dengan segala kerendahan hati dan rasa hormat kepada para musisi jazz dunia, musisi jazz Indonesia dan juga musisi jazz yang berada di kota Malang tercinta.

w h e n
sebuah kelahiran biasanya dirayakan setiap tahunnya sebagai perayaan ulang tahun dan sebagai ucapan syukur bertambahnya umur. Farbig tidak memiliki tanggal yang special yang dijadikan symbol kelahiran kelompok ini. Tapi kami masih ingat performance kami pertama kali yaitu di hari jumat tanggal 28 juli 2006 di Makan Time – Surabaya. Dan kami merayakan setiap pertambahan usia kami di setiap show yang kami dedikasikan untuk setiap orang yang mencintai musik sebagai ciptaaan Tuhan.

h o w
meraih dan merawat adalah dua kegiatan yang berbeda tapi saling bergantung. Mendapatkan kepercayaan dari para penikmat seni, kritikus, musisi, event organizer, outlet dan berbagai pihak dalam dunia hiburan bermusik di Malang khususnya, adalah sebuah proses yang panjang untuk farbig. Dan proses meraih itu semua terus kami lakukan sampai detik ini dengan cara farbig dalam berkesenian. Tetapi step berikutnya adalah merawat kepercayaan yang amat mahal dan tak ternilai yang telah diberikan kepada farbig. Bermusik bukan hanya memainkan chord, nada, dan mempertontonkan skill di hadapan banyak orang, tetapi bermusik untuk farbig adalah suatu etika kehidupan bersosialisasi sehingga hubungan antara semua pihak yang terkait di dalamnya menjadi indah dan nyaman.

f a r b i g family

Om George Laisina memberikan nasehat pada farbig, beliau mengatakan bahwa kesuksesan adalah hasil dari sebuah team work. Nasehat ini yang selalu kami ingat dalam kehidupan bermusik kami. Berikut adalah teman-teman yang menjadi keluarga bagi farbig, yang secara langsung maupun tidak, ikut memberi warna pada farbig
• Gedy (Drum), menjadi warna buat farbig dengan segala kemampuan memainkan drum yang dimiliki. Gedy juga menjadi bagian kelahiran, perjuangan dan keluarga farbig. Terimakasih teman untuk semua yang sudah terjadi, dan mari kita terus berkarya di tempat kita yang berbeda.
• Dedy (Bass), laki-laki pendiam di segala suasana ini mendadak jadi lincah kalau sudah memeluk bass-nya dan duduk berhadapan dengan buku partitur saktinya. Sosok yang flat tapi berkarakter ini juga menjadi bagian dari warna farbig sampai kapanpun. Thanx dedy untuk betotan bass nya.
• Edo (Bass), Edo pemain bass muda kota Malang yang sudah melalangbuana ini, juga teman baik farbig. Pertamakali kita contact untuk jadi additional player, beliaunya sempat kaget tapi menyambut dengan segala ekspresinya gembiranya. Terimakasih Edo untuk waktu dan tenaga yang sudah diberikan, next time bantuin lagi ya kalau om pink sedang berhalangan.
• Arafuru Band, farbig mengenal Arafuru dengan nuansa jazzy tunes nya. Sukses untuk temen-temen Arafuru, mari kita sama-sama membuat jazz boleh tinggal dan hidup di Malang
• Abigail Rhythm, walaupun bandnya baru terbentuk di awal tahun 2008, tetapi kedekatan farbig dengan tiap personelnya sudah berjalan jauh sebelumnya. Andika, Beni dan Gedi membentuk trio yang keren dan juga ingin sama-sama berjuang menghidupkan suasana jazz di Malang. Keep movin’ guys!
• Tokek n friends, namanya saja sudah unik dan cocok sekali melukiskan keunikan kumpulan orang muda ini. Memilih jalur indie untuk berkarya, membuat tokek n friends segera bisa diterima oleh penikmat musik jazz di malang. Berciri khas, muda dan segar adalah pesan yang diterima farbig ketika mendengar dan melihat performance tokek and friends. Kebetulan salah satu “friend”-nya tokek yang ikut ambil bagian adalah juga keyboardist farbig, jadi kita pasti akan terus saling share.
• Batik Band, perkenalan farbig dengan batik band diawali di event Djisamsoe Tribute to Jakjazz (February-April 2008), sekumpulan orang muda yang memilih membawakan jazz era 2000an ini terdiri dari mahasiswa dan alumni Universitas Brawijaya. Batik juga telah mewarnai jazz di Malang. Terus berkarya untuk teman-teman Batik
• Traffic Band, sebuah band jazz Malang yang terdiri dari Helmy (bass), Heru (gitar), Yasser (keyboard), Hendra (drum), Gatut (vocal) merupakan teman sharing dalam bermusik. Keep goin’ with Jazz Guys!
• Band yang akan segera bermunculan di Malang, Anda yang membaca catatan kecil farbig ini dan punya keinginan atau sudah punya band, jangan pernah malu untuk membuka diri dan keluar dari sarang. Farbig dengan senang hati dan bangga sekali jika bisa bersama-sama membuat jazz hidup dan berkembang di Malang.

perjalanan f a r b i g

• regular Bunga Bali – Malang ( 2006 )
• regular Makan Time – Surabaya ( 2006-2007 )
• regular Vivace – Malang ( 2007 )
• regular Waroong Cinemax ( April 2008 – masih berjalan )
• event Djisamsoe Jazz Regeneration 3 ( Desember 2006)
• event Djisamsoe Jazz in the City 2 ( November 2007)
• event Djisamsoe The Wonder of Jazz ( New Years Eve, 31 Desember 2007 )
• event Djisamsoe Tribute to Jakjazz ( February-April 2008 )
• event Djisamsoe Friday is Jazz day ( Mei-Juli 2008 )
• event Djisamsoe Jazz in Malang with Farbig and Surabaya All Star (3 April 2008 )
• event Kharisma XIII Universitas Brawijaya ( 28 Februari 2008 )
• event JazziLAcious FIS Universitas Brawijaya ( 24 Mei 2008 )

Untuk mentranslate bahasa

Lebih dekat Koko Harsoe

Gitaris Asal Malang, Ngejazz di Bali

Satu lagi seorang gitaris jazz dari Bali yang baru saja mengeluarkan sebuah album baru yaitu Koko Harsoe dengan albumnya yang berjudul ‘Mainan’. Album ini sekaligus juga sebagai album pertamanya. Dalam blantika musik jazz di Bali sosok Koko ini tidaklah begitu asing. Gitaris kelahiran Malang ini kelihatannya harus berjuang untuk memperkenalkan beberapa karyanya kepada para pecinta jazz di luar Bali (maklumlah karena selama ini sebagian besar para pemain jazz kita lebih senang untuk berkumpul di ibu kota saja, apalagi kalau sudah terjun ke dalam industri musik). Meskipun melihat kondisi nyata, tidak sedikit para pemain musik jazz yang ada di berbagai daerah yang tidak kalah potensinya dengan yang berada di Jakarta. Sekalipun paling tidak, sebagai langkah awal yang cukup berani hal ini sudah diantisipasi oleh Koko dengan memproduksi album ini sendiri.

Di luar kondisi di atas, dalam album ini Koko menawarkan kepada publik pecinta jazz dengan sebuah style di mana barangkali tidak jauh-jauh akan mengingatkan kembali ke “masa keemasan” fusion ataupun jazz rock pada dekade 1980an terutama di Indonesia. ‘Assalamualaikum’ sebagai salam pembuka memberikan aksen yang sedikit eksotis dengan tampilnya dua orang musisi yang memainkan digeridoo dan tabla (sayang, dalam keseluruhan album ini mereka masih malu-malu untuk tampil lebih percaya diri atau memang hanya dalam komposisi itu saja). Dalam komposisi yang berjudul sama dengan judul album ini ‘Mainan’ terutama pada bagian improvisasi gitar solonya menunjukan bahwa Koko juga tidak asing dengan bebop licks-nya. Sebenarnya hal itu juga kadang-kadang muncul dalam beberapa komposisi lainnya namun dengan kemasan melodi dan beat yang lebih bisa diterima oleh banyak orang. Selain itu, Koko juga tidak terlepas pengaruh dari para gitaris musik rock yang khas. Dalam lapisan berikutnya, Sordhy dalam beberapa bagian tampil cukup baik. Dia cukup ketat dalam memainkan akor dan improvisasinya. Komposisi yang dengan apik digarap yaitu ‘Parikan’ lebih menjadi semacam tour de force bagi kelompok ini.

Barangkali yang menjadi harapan terutama bagi para pecinta musik jazz di Indonesia album ini dapat menumbuhkan kegairahan ataupun semangat yang baru kembali untuk terus berkarya baik bagi Koko sendiri maupun untuk para pemain musik jazz Indonesia yang lainnya dalam kondisi Indonesia yang sedang carut marut ini. Kalau dari keyakinan penulis sendiri, Koko sebenarnya bisa tampil lebih serius lagi dalam menggeluti musik jazz apalagi bisa ditambahkan sebagian unsur-unsur kekayaan tradisi seni musik nasional ataupun ide-ide yang menarik lainnya. Dalam album ‘Mainan’ ini seolah-olah Koko tampil masih belum maksimal. Meskipun masih ada sesuatu yang menjadi hambatan, yaitu dominasi pasar.(wartajazz.com)

Untuk mentranslate bahasa

Tentang Surabaya All Star

Kamis malam, 3 April 2008, komunitas jazz Malang yang tergabung dalam Malang Jazz Forum berkumpul di Hotel Santika untuk menikmati tembang-tembang jazz yang dibawakan Surabaya All Stars dalam Dji Sam Soe Super Premium Jazz in Malang. Surabaya All Stars memiliki pengalaman cukup banyak di arena jazz baik di Jakarta maupun Surabaya.
Mereka setiap Rabu tampil di Vista Sidewalk Cafe Surabaya. Pengalaman tampil mereka pada 25 Nopember 2007 mengisi di JakJazz. Lagu favorit mereka di JakJazz dan mendapat respon publik jazz yakni Jula-Juli.
Pada 7 Maret 2008 lalu, ketika tampil di Java Jazz, Surabaya All Star tampil dengan lagu baru mereka berjudul Surabayaku. Surabaya All Star terdiri Totok Afiat di Bass Guitar, Arranger, Tri Wijayanto pada Electric Guitar, Akustic Guitar dan Arranger. Berikutnya Mohammad pada Drums, Iwan di Piano, Synthetizer dan Arranger, FX Boy pada Alto Saxophone, Percussioons, Syaiful pada Tenor Saxophone, Soprano, Dodi pada Trumpet, Horn. Personil lainnya Sapto pada Trombone, Ruland pada Percussions, Corina di Female Singernya.

Untuk mentranslate bahasa

Tentang Paul Anka

paul-anka.jpg

Penyanyi kelahiran ottawa canada 67 tahun yang lalu ini merupakan keturunan kanada-lebanon. Paul kecil aktif dalam kelompok paduan suara gereja orthodox Saint Elijah. Paul juga pernah bergabung dengan grup vokal trio “Bobby Soxers” semasa sekolah di Fisher Park. Berkat dorongan orangtuanya pada umur 14 tahun Paul rekaman single pertamanya yang berjudul “I Confess”. pada tahun 1957 dia pergi ke New York untuk mengikuti audisi di saluran televisi ABC. dengan membawakan lagu yang berjudul “Diana” Paul berhasil memuncaki tangga lagu. dengan kesuksesan ini Paul pun menjelma menjadi idola baru bagi kaum remaja pada masa itu.

Paul kemudian berkenalan dengan Buddy Holly saat tur bersama di Australia. Melalui perkenalan itu bakat lain Paul pun muncul yaitu sebagai pencipta lagu yang brilian, sebagai bukti dia berhasil menciptakan lagu hits yang kemudian dibawakan oleh Buddy yaitu “It Doesn’t Matter”. Lagu ini juga menjadi lagu tema acara Johnny Crason’s Tonight Show. Lagu-lagu lain yang lahir dari tangan dingin Paul adalah “She’s A Lady” milik Tom Jones dan single yang telah mendunia milik Frank Sinatra yaitu “My Way”. Pada tahun 1960 Paul melakuka terobosan dalam karirnya dengan berakting dalam film layar lebar dengan titel The Longest Day sekaligus menulis lagu untuk soundtrack film ini yaitu “Lonely Boy” yang kemudian jadi hits sukses. Selain sukses dalam menghasilkan single yang mendunia Paul juga tercatat berhasil dalam menciptakan jingle untuk iklan komersial KODAK yang berjudul Times of Your Life. Jingle ini terbukti cukup populer pada masa itu dan Paul pun memutuskan untuk merekamnya dalam format full album. Pada tahun 2002 Paul Anka berduet dengan musisi lintas genre yaitu penyanyi hip-hop Jay Z dalam single “I Did It My Way” yang terdapat dalam album The Blueprint 2: The Gift and The Curse

Untuk mentranslate bahasa

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.